Wednesday, December 29, 2010

hadiah untukku di hari sabtu (dmk)


kujadikankatakatamuhadiahuntukkudiharisabtu
:


Malam adalah sebuah
danau di kabut biru
Aku seorang nelayan
pada perahu layar yang sedang tidur
memancing mimpi





Saturday, December 11, 2010

Re: Amsal Hujan *


mungkin ia bersembunyi di langit

menatap mata kita menyipit
di antara tiang-tiang hujan
ujungnya meleleh di bibir jalan


* membalas puisi berantai teman-teman milis Bunga Matahari

Tuesday, December 7, 2010

kamu menebak-nebakku




seperti potongan vignette
because you just haven't met me yet

Sunday, December 5, 2010

yogyashire



hujan datang tak beraturan
dari oktober sampai oktober lagi
kami jadi terbiasa
bergigilan basah dan lengket
seperti pisang diabaikan monyet
dikerubut lalat sampai melenyet

hutan bangunan tropis ini
terlalu banyak menghasilkan sampah
dan rasa gerah yang tak diolah
meski disiram juga oleh langit yang muntah
lalu cuma kuyup pasrah

ini bukan jaman bumi tengah
dengan gunung berkabut
rumput yang lembut
penduduk yang gagah

pelangi di sini telah di multiply
cabang matahari selalu ramai
dengan bunga-bunga plastik menghiasi
meski hanya merapi yang asli
yang mencipta sejarahnya
dengan berani

mungkin kami mengalami reinkarnasi
atau evolusi
atau ciptakan saja istilahmu sendiri

Monday, November 22, 2010

tapi getarnya kembali




lolongan perahu waktu
membelah laut jiwa dengan panjang
gaungnya

adakah kita terlahir di hari
tanggal bulan jam detik yang keliru?

karena selintas tatap
di alun ombak kehidupan
kita tertumbu pada
percik-percik karang yang sama

kadang-kadang
kalbu hanya bisa mengerang
jauh di kedalaman
tak terpegang

tapi getarnya kembali
ke permukaan

tidak kalah
oleh rajah sejarah

dalam genggam tangan nasib
yang ajaib

Tuesday, November 9, 2010

tolong baca surat yang kukirim ke pintumu


tolong baca surat yang kukirim ke pintumu

di dalamnya kuselipkan kutipan lirih terjemahan
yang kutimba dari sumur berisi banyak kata
dibubuhi perasaan semacam kenyerian mendalam yang membuatnya
terdengar bagai lagu yang dibisikkan di bawah langit tak berbintang
dengan lirik tersayat dari leher yang seperti terikat

tolong baca surat yang kukirim ke pintumu
yang kutulis dalam tidur ketika sekelompok
orkestra bertengger di kedua telingaku sambil
memainkan ratapannya sampai kupu-kupu
beterbangan pergi dari akar-akar rambutku

mungkin di antara baris-barisnya
kau akan menemukan sedihnya hujan yang turun bersama debu
kau akan mendengar rahasia airmata yang menyamar
di lautan menderu

mungkin di antara baris-barisnya
kau membaca jejak-jejak bisu dan mencium aroma keganasan
yang memanggang jeda antara mata dan hatimu

tolong baca surat yang kukirim ke pintumu
lalu berjanjilah mengirim balas kebahagiaan
ke wajah-wajah pilu yang membuatku menyuratimu

Friday, October 29, 2010

hatimu rumah turf




: sigur ros



aku meringkuk nyaman


dibungkus kabut jantan


kau yang menganginkan


ke ruang harta perasaan


memperdengarkan lolong
batu

dan rerumputan


menerjemahkan diam


sayat-sayat air


di permukaan malam


cahaya menyingkir


menyublim temaram


saat lampu-lampu padam


semua kendur

aku tertidur

Wednesday, October 20, 2010

kiriman


rahasia ditulis di langit, kesa

kau yang di sana

terlalu sering aku tersesat dalam peristiwa
juga jutaan tanda

seperti buta meski mata menyala

untung mandolinmu di telinga
gemetaran suaranya

selalu mengingatkan kita
tentang jeda diantaranya

sambil melaju menerjang malam
aku mengenang air mata yang terbenam
di kuburan

semoga kau terima pesan yang kutitipkan
pada mereka yang melakukan perjalanan

Monday, October 18, 2010

... memantul di atas awan putih, membunuh sendu



karena tak ada


yang lebih sedih

selain

kehilangan dirimu sendiri

dalam cinta




*terjemahan bebas dari potongan liriknya John Prine: Killing The Blues,
dinyanyikan Robert Plant & Alison Krauss*

Saturday, October 9, 2010

kota-kota diam


seperti surga yang tidur


mengerami hening

menyebar dingin

merasuk ke pembuluh

darahmu yang

mengalir lambat

sampai kau

membeku

menjadi bagian

kota-kota itu

Wednesday, October 6, 2010

pakai sayap patah ini dan belajarlah terbang


lelaki layar bioskop itu mencium tanpa permisi.

ia yakin tubuhnya sedang bukan miliknya sendiri. siapa tadi yang
menyalakan lampu dan melipat kursi-kursi. kepalanya seperti
diinjak-injak semut-semut bersepatu jinjit.

monolog di telepon berjam-jam. suara di telinganya magis sekali
tersusun dari notasi gemuruh ombak laut
menggulung rasa takut dan memuntahkannya di pantai tak henti-henti.

emas dibibir pagi, sinarnya memendar, mencuri pandang pada malam
yang pergi. mengintip sisa gairah gothicnya dalam lelehan cat hitam
di dinding karang dalam kamar mandi.

perlahan-lahan, api di matanya padam.

ia terbang,
tinggi sekali.

Sunday, October 3, 2010

menunggu



"Rindu itu padang rumput hijau yang menumbuhkan
bunga-bunga mimpi", ujarmu dulu saat kita memandang
pesawat bersliweran di langit kota ini.

Ya, tapi sering angin berhembus kencang sekali
sampai kelopak bungaku lepas berguguran
mengigil kesepian.

Kau tersenyum sangat manis dalam foto
diantara taburan surat-suratmu di atas mejaku.

Sunday, September 26, 2010

cerobong awan


hujan jatuh, terpeleset di lantai langit

berhamburan dalam tulisan

halamanku dibasahi matahari malam
sembap dan acak-acakan

kulepas rinduku pada bibirmu yang kejam
mengasah lembut bicaraku di lidahmu tajam

kita melubangi bulan, merakitnya jadi layang-layang
betapa senangnya, laut beterbangan

tapi kau mengikat kakiku sampai terpejam
kuberitahu, mereka merangkak di kelambu tidurmu

tubuh-tubuh perempuan bermekaran
di musim ingatan

bisa kau kasih tahu yang mana aku?
jejak-jejak pasir itu hantu

tanganku buta meraba-raba masa
siapa saja yang di sana

lalu kau nyalakan petir dengan ragu-ragu
dan kusisir remah-remah sinar di rambutku

Thursday, September 23, 2010

maze


aku melihatnya di sebuah kafe sedang melihat sesosok laki-laki berdiri membelakangi etalase melihat sebuah baliho di seberang jalan bergambar perempuan kurus yang melihat seorang anak kecil berpita merah terjuntai yang melihat televisi berwarna dan seekor anjing putih di sebelahnya yang melihat seekor kucing gemuk oranye yang melihat seekor burung hitam di atas gedung cokelat tua yang melihat mata langit abu-abu yang menangis ke dalam mataku yang melihatnya

dekut tersamar




kaus kaki garis-garis plus tengkorak kecil berwarna pink

di dalam ember plastik mengapung di lautan matanya


dunia permen dengan pulau-pulau bahasa

(bunga api! kembang kata!)


aku menembus lapisan cermin lagu demi lagu

terbangun beberapa kali untuk memastikan aku sudah

memadamkan telinga


burung hitam beterbangan di pecahan cahaya matahari
bunyinya seperti kepak biola bergema
dari dalam kamar mandi

mengayun langkahku ke alamat baru, sebuah kastil kertas

dari guntingan koran dan tabung televisi bekas


dia biasa saja
tapi pintar sekali


aku hanya terpesona

tapi mencari-cari cara mengejeknya


Thursday, September 16, 2010

Thursday, September 9, 2010

Aku baru saja membaca puisi indah sekali


diterjemahkan dengan kepandaian dan hati

oleh sepasang suami istri.

Diantara ledakan petasan mengakhiri ramadhan,
kamarku yang sempit terasa melebar
menjadi pulau kecil mengapung sendiri
dihiasi pepohon rindang, pasir putih bibir pantainya,
satu perahu tua tertambat di tepiannya dan camar-camar
bersahutan, para pujangga samudera.

Rasanya segala kekurangan adalah kecantikan
terpendam. Kecewa yang teredam
seperti matahari tenggelam. Bara panasnya meleleh
di ujung cakrawala, ditelan laut senja.

Aku membayangkan tahun-tahun silam
sebelum kelahiranku
kenangan masa lajang ayah ibu
yang terbawa dalam nadiku
hilang muncul dalam mimpiku.

Aku memungut gema perasaan
dari jejak puisi terjemahan
yang kubaca di malam takbiran.

Tuesday, September 7, 2010

lalu -terpenggal- bercerita


dahulu kala ada seorang gadis kecil


-ter

peng

gal-

terlihat berkilau-kilauan tersiram cahaya

-ter

peng

gal-

sahabatnya adalah awan yang selalu

-ter

peng

gal-

sepi yang didekap erat-erat oleh si

-ter

peng

gal-

sambil melecut-lecutkan ekornya

-ter

peng

gal-

warnanya menjadi gelap kehitam-hitaman

-ter

peng

gal-

Benarkah?

-ter

peng

gal-


terdengar bunyi ledakan

-ter

peng

gal-


sepi tergeletak di



Sunday, August 29, 2010

Danube


kususuri lekuk tubuhmu

ketika langit abu-abu
dan hawa dingin menikam kulitku

terkenang masa kecilku
menatap wajahmu dalam kalender tahun 80an
di kamar kerja ayahku yang berantakan
dan aku belajar mengucapkan
laut hitam

engkau mimpi, engkau janji
mewujud menjelma diri di hadap mata ini
memenuhi yang lupa kuingini

di salah satu tepi bibirmu
Schonbuhel memanggilku
mengikat sekujur lidahku
menguras aksaraku
meninggalkan rasa lengang haru
ketika aku berlalu melambaikan tangan jiwaku
ke arahnya yang segera tertutup ditelan kabut biru

aku terhisap ke dua ratus tahun lalu
melagukan persembahan bagi para dewa
dari tengah dan timur eropa
yang menjaga kecantikanmu
dari waktu ke waktu


Saturday, August 28, 2010

dari separagraf puisi*



di sepanjang sungai kau alirkan yang sudah lama terbengkalai
dan kami tunggu dengan dada berderu, meraup segar
datangnya, bergayung-gayung peristiwa sesudahnya untuk
menyirami hampar harap yang kering ini. hanya beberapa yang
bisa diceritakan dari perjalanan panjang dan keelokan waktu yang
mewakili pesan-pesanmu. tak maulah kita menua oleh angka tetapi
bertambahlah yang selalu kau sebut sebagai bijaksana. terbentang
rentang jarak kita tapi kepul harum kopi dan hangat
percakapan malam tetap membara di dalam dada. lagu bisa saja
berseberang nada tapi dendang yang mengambang sepanjang
tembang yang kita kenang akan mempertemukan kita pada
suatu peristiwa dulu sekarang esok atau lusa.








*menjawab puisi si hujan utara di bunga matahari

Wednesday, August 25, 2010

suara yang membeku


memakai selendang panjang


menjuntai merah semerah bibir tropis yang baru rekah

perempuan bermata kelereng, bertelinga strawberry

mencuat keluar dari dalam kotak musik

menari-nari di atas nada-nada dalam kepalaku

mencari-cari alamat tempat yang akan kutuju

mencatat kereta melodi mana yang harus dipilih

menyiapkan pakaian untuk cuaca tak terduga

mungkin aku harus menyelam ke dasar sungai

atau mengunci seribu pintu

sebelum mati lampu

karena hujan deras mengaburkan segala sesuatu

dan aku mengapung di ruang tunggu

seperti suara yang membeku

dalam salju

Spam Maps



Tidak pernah terlalu malam jika kau kelayapan di alam cyber! Kita tidak mengenal tidur!




Lalu ia pergi menuju pintu Mozzila Firefox-nya.

Please wait.
Itu pesan di layar monitornya.

Ketika menunggu ia hanyut dalam
keramaian dari hal-hal yang bersliweran di kepalanya sendiri.

Problem loading page.

Sambil menekan tombol reload current page
ia membayangkan generasi baru yang lahir di atas ranjang
yang dibaringkan sejajar dengan blackberry mommy and daddy
juga kadang bersebelahan dengan laptop mereka yang dipenuhi
foto aneka pose si bayi yang ditransfer dari kamera digital
milik either mom or dad.

Maka baterai habis dan listrik mati = bencana.

The connection was interrupted while the page was loading.

Adalah dunia maya yang tak berhenti menggoda, oleh karenanya
menggemaskan tiada tara jika jalan menuju kesana begitu
lambat, akses buruk, sehingga ia seperti tersesat di tempat duduknya sendiri.

Your conversation has been moved to the trash.

Percakapan yang mana? Ia hanya mencoba mengetuk pintu Mozilla
dan
jendela-jendela yang ia buka, mencari percakapan
yang ditawarkan.
Percakapan yang maya, percakapan yang nyata,
percakapan yang cyber.


Server not found. Try again.

Jelas mencandu. Ia tak berhenti menginginkan.
Ia tak berhenti membutuhkan.

Lagi, lagi, lagi.

Segera setelah pintu dan jendela-jendela dibuka, ia lupa pada
tubuh fisiknya.
Ia menjelma jiwa utuh menjadi apa saja
menerobos matriks
kesana kemari kemana ia ingini.

Welcome to the kingdom of Google.

Betapa menyenangkannya memiliki pilihan.
Betapa menyenangkannya menjadi gurita maya.
Jari-jarinya menjelajah rakus, mencari yang tak ketemu,
menemukan yang tak dicari.

Ia melihat, membaca, membayangkan, meresapi,
menjalin hubungan, menjadi bagian jejaring,
memultiply diri, menjelma cyber surfer, mencatat,
menyampah, menyiksa waktu sampai tak terkendali.

The connection was reset.
Modem sialan.


Ia belum selesai.


Saturday, August 21, 2010

emas musim panas


di antara hamparan gandum di desa kecil altenburg yang sepi

aku bertemu satu tiang batu dengan salib terpancang di atasnya

matahari waktu itu berwarna emas
berkilauan cahayanya di ujung kepala yesus yang tertunduk
ke bawah, ke arahku yang mendongak sedikit menganga

aku tak berdoa
aku tak sedih atau bahagia

tetapi senja itu istimewa
karena malam begitu muda
sedang perasaanku sangat purba
dan tak punya kata-kata
untuk menggambarkannya

aku mengenangnya
ketika gerimis mengetuk jendela kamarku
pada suatu sore di jogja
waktu matahari mengintip
dari sudut langit yang mulai
menangis

seberapa dalam cintamu

du du du du

perempuan bermata garpu
menuju ke empat lelaki terikat di bangku
di balik ingatanku

ambil mereka
itu mereka

take that
take that

matanya membelalak dan garpu tahu-tahu
sudah di leherku, tepat di bawah amandel kananku

"I want them back for good"

oh, kupikir ia akan bertanya
kepada para pria
seberapa dalam cinta mereka

oke,
ambil semua itu

aku meringis
menunggu diselamatkan bee gees

dan keempat pria itu berlagu
ke arah perempuan garpu itu

aku percaya padamu
kamu tahu pintu ke jantung jiwaku
kamulah cahaya di kekelaman, kedalaman waktuku
kau penyelamat saat ku jatuh

ohh
take that !
take that !



legal alien


tiga jam di ruang tunggu klinik gigi menemani sepupu
yang menahan nyeri
. hey ada mbak-mbak berbaju seksi
pakai sandal hak tinggi
dan aww kawat giginya juga ikut aksi
ketika dilayani mas-mas perawat

yang cara jalannya melambai-lambai asoy sekali


sesudah menunggu sampai hampir jadi batu baru tersadar
adanya urgensi
untuk punya blackberry yang may keep you
busy di momen seperti ini
agar bisa update status fesbuk
dengan kalimat-kalimat yang cheesy seperti

aih senangnya punya blackberry! atau, uh bete deh, antrenya
luama banget neh
;/
lalu menunggu respon-respon yang bitchy sambil
(s)talking kesana kemari



ada elizabeth di televisi ditanyai tentang centhini.
bicara seks membuat perut keroncongan atau mungkin
malam masa ramadhan
memang dipenuhi
udara aneka appetizer meski kau sedang mengantre dokter


kesehatan itu mahal dan yang mahal itu belum tentu sehat
semakin lama di ruang tunggu rasanya semakin dungu.
bacaan-bacaan yang berserakan hanya berisi hal-hal menakutkan
semacam ribuan alasan menuju kematian apabila tak menjaga kesehatan

kembali saja ke televisi tapi oh,
remote telah dikuasai dua wanita paruh baya yang memaksa
semua mata
menonton tvri
(tayangannya? bayangin aja sendiri)


olrite. that's it.
sepupu keluar dari ruang periksa
wajahnya datar tanpa seringai

atau tawa
dijahit rupanya


sakit?

sedikit

makan di mana kita?

--bayangan ancaman kesehatan dan kaitannya dengan kematian--

tengah malam begini susah cari warung buka
cari yang 24 jam saja *berpikir tidak terlalu keras*

mmm.....junk food?
ayolah

mcdonald's, kepadamu kudedikasikan malamku
sebagai bagian absurditas kehidupan

yang penuh ancaman (dan permakluman)

Thursday, August 19, 2010

36°C


mariahilferstraße siang-siang


dua lelaki bermain gitar
di tepi trotoar

meraung-raung

please forgive me
I know not what I do

semakin panas
matahari mencintai celcius
meninggikan derajatnya

aku meleleh

menjelma air minum
mengalir dari wina kemana-mana

waktu malam
aku demam
mengigau seperti bahasa jerman
atau mungkin cuma lirik jamaram
(atau bryan adams?)

yeah, believe me
I don't know what to do

please forgive me
I can't stop

.... you

epea pteorenta*


aku suka berdiri lama di depan cermin ketika usia belasan

dan masih suka melakukannya sampai sekarang
sambil mengukur jarak antara aku dan cermin
serta apa saja yang terbentang di sela-selanya

aku duduk di depan kantor pemadam kebakaran yang tutup
pada suatu pagi di bulan desember di philadelphia tahun 2004
dan tak ingat lagi seperti apa rasanya kecuali
berpose pada foto yang masih kutatap sesekali

aku meracau di sela-sela jam kantor selama beberapa tahun
dan menghasilkan baris-baris rangkaian kata tercetak
pada majalah a, b, dan c yang tak pernah
teman-teman kantorku membacanya

aku bertengkar dengan pacarku yang jauh dan melampiaskan
kemarahanku dengan tidak melakukan apa-apa

aku mendengarkan the Beatles tanpa rasa bosan
sekaligus jatuh cinta pada anos dourados sambil membayangkan
seperti apa tom jobim di masa mudanya
dan seandainya aku si gadis dari ipanema itu

aku masih belum selesai membaca a short history
of tractors in ukrainian yang kubeli
2 tahun yang lalu dan merasa baik-baik saja

aku kembali kepada puisi untuk bertanya apa itu sepi
bagaimana mengisinya dan apa sajakah yang sudah kita
lakukan untuk memperingatinya, persis seperti tanggal 17
agustus ketika orang-orang bicara tentang merdeka
dengan bibir penuh busa korupsi

aku terinspirasi membuat tulisan ini
setelah mengunjungi multiply kawanku yang mungkin
sudah ditinggalkannya lama sekali



*winged words alias kata bersayap

Tuesday, August 17, 2010

Ostarrîchi


nyamuk sebesar helikopter mini

dan odes schloss berdiri sendiri
di tepi sungai hijau tua
menikmati musim panasnya

langit-langit kamarku
dipenuhi peri kecil berperut buncit
membawa terompet atau sesuatu
seperti gulungan perkamen

berpadu dengan ornamen
zaman baroque

kemewahan yang menakutkan
bergelimpang dalam kesunyian

aku lebih suka duduk di bangku kayu
menghirup bau lavender ungu
sambil memandang turis-turis
melewati patung-patung di gerbang masuk

sampai matahari terbenam
menjelang pukul sepuluh malam

sebelum lonceng berdentang
kubayangkan kau datang
terbang dari menara gereja
membawa sisa cahaya

ke tengah-tengah padang
agar aku menjadi bayang-bayang
di gulungan jerami

meminjam waktu abadi
sendiri

No Subject

: DeeDee


kadang-kadang kepalanya tersusun atas kepingan dongeng acak
dari legenda bulan dan raksasa
sampai kisah lidah ular
yang terbelah dua

sejujur-jujurnya ia menggarisbawahi setiap
ujarannya dengan usaha keras agar
tak ada selipan sendu atau lilitan
kemurungan yang kemudian selalu
menjadi nada dasarnya

ke dalam malam ia suka melemparkan
sisa harinya dari sekeranjang penuh kalimat
berharap gelap akan menghapusnya sehingga
sebagian kepalanya menjadi kosong
cukup untuk sebuah ruang istirahat
yang lengang dihembus angin lupa
sepoi-sepoi

kepada pagi ia terbiasa berdoa
seperti yang diajarkan oleh ibunya
dengan kepasrahan sedalam lautan
yang sering membuatnya ketakutan
kalau-kalau ia hanyut dan tenggelam
tanpa sempat diselamatkan

kadang-kadang jika pikirannya teramat pendiam
gambar-gambar menjadi samar
hingga ia mengira dirinya mulai moksa
dan kehilangan kata-kata

Thursday, August 12, 2010

j.e.d.a.



ada jeda saat
puisi-puisi tertunda ditorehkan

mereka beterbangan
dari zaman ke zaman

hinggap di keindahan
yang disimpan rapi

dalam
batin kenangan

Thursday, July 1, 2010

salsa yang lelap



menyelinap diam diam
di balik pejam mata
lelap

kau tinggalkan aku
memeluk tubuh kecilmu
membelai rambut ikalmu

duhai salsa
aku dan boneka kayu
menatapmu menghembuskan nafas teratur satu satu
di rel tidurmu
menuju dunia fantasimu

aku cuma bisa menebak
dari bola mata di balik kelopak
yang bergerak-gerak

main apa di sana sayang?
apa anak-anak kecil di sana tahu lagu lagu kesukaanmu?

aku dan boneka kayu
menatapmu menghembuskan nafas teratur satu satu

kucium keningmu
kututup buku dongengmu
kututup mataku
menyusulmu

Wednesday, June 30, 2010

pagi di tarian sang Mawlana


beludru biru
anginmu belai pipiku
teluk yang mendengkur tidur
apungkanku diam di perahu kayu

bayang bayang bukit mengitari
putih jubah langit, merah topi matahari
lalu kulihat Rumi berpuisi

...Mari kemari datanglah...
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Meski kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari datang...datanglah sekali lagi

ia berputar di tenang alam raya
ia ajak aku menari Sama
menjadi bagian kecil pagi
di tarian sang Mawlana

Monday, June 28, 2010

Catatan lama: dari desau angin di sela-sela Steinway Bechstein


: buma 2006



/I/

aku terlambat! aku terlambat!
terpatah patah tersayat pianissimo
masih kurasa hangat energi yang tersisa dari summertime
dan jejak presto menguap di udara.
sudut kota ini melantunkan dolente untukku,
untuk kami yang tertinggal disambut guguran nada turun
dari tanggatangganya, mula mula perlahan
lalu deras dan tetap...terus menerus.
stileconcitato....
sembari mengenang summertime yang telah berlalu


/II/

menggigil diantara dua musim,
desau alunan itu menyusuri gigir tebing
dalam legato,sambungmenyambung tiada henti
satuperenampuluhempat
kami menikmatinya.
hemidemisemiquaver!
Demi Appolo!
mainkan lagi,
kita masih punya waktu


/III/

malam ini,
semoga dentingnya masih berdenging
diantara sisa jeda hari yang penuh sesak
seteguk lagi
dan biarkan simphoninya mengelus pembuluh hati



Thursday, June 24, 2010

Central Park


hmm kamu segar seperti jus mangga


lihat, bocah kecil berkaos merah muda itu

tertawa padamu dengan gigi depan ompongnya

gadis meksiko penjual pretzel terus melirik padamu

ada yang lain di central park ini

sesuatu yang berbeda

ada kamu, yang turun dari taksi kuning besar

membuat musim gugurku menjadi hangat menyegarkan

selamat datang di New York kawan!


16 Okt 06

Sudah


nyawa diujung jari
mata liar membakar sunyi
satu satu terbuang mimpi
kau memutar sekali
tergeletak lalu sepi
di rohmu yang transparan
aku belajar merelakan
pergi,
bawa serta beban beban ini
aku sudah berdamai
dengan diri sendiri


27 Nov 2006

Saturday, May 15, 2010

Not My Imagination





berayun pada lonceng sunyi
serta jarak nafas yang dekat
sekaligus jauh sekali

you're my favourite mistake

salahkan waktu
salahkan sejarah

mereka pongah
tak bisa disesah
dengan pasrah

stay in touch

ia menjadi pujangga tiba-tiba
karena pintu sendunya lebar dibuka

dan angin kencang menghempas ke dalamnya
dan mendung murung mengurung

lalu lonceng sunyi bergetar seperti marah
menghantam dinding-dinding kosong
perasaan yang kalah

wait

ada harapan di laut matanya
di langitmu juga

menarikan cahaya kapal kecil dalam irama tak searah
seperti leleh lilin tak sudah-sudah

Friday, May 14, 2010

Kepada :


doa-doa terburai

jiwa yang gemetar
pintu-pintu terkunci
aksara yang nanar


puisi,
terimalah perasaan-perasaanku ini




: karena tak tahu kemana lagi mesti pergi

Monday, May 10, 2010

Anak Laki-laki Kecil yang Bisu*




Anak laki-laki kecil itu mencari suaranya.

(Raja para jangkrik yang menyimpannya.)

Dalam setetes air
anak laki-laki kecil itu mencari suaranya.


Aku tak menginginkannya untuk kupakai bicara;
Aku akan membuat cincin dari itu
Sehingga kesunyianku bisa mengenakannya
di jari kelingkingnya.


Dalam setetes air
Anak laki-laki kecil itu mencari suaranya.

(Sang suara yang terpenjara, jauh disana.
Tersembunyi dalam pakaian-pakaian si jangkrik.)





*Judul Asli: El Niño Mudo karya Federico García Lorca
Kuterjemahkan dari versi terjemahan Inggrisnya : The Little Mute Boy oleh W.S. Merwin

Sunday, May 9, 2010

Blame it on the rain




Sudah lama ia tak membuka account yahoo
karena sudah lama ia pindah ke gmail.

Hari itu udara tak sepanas biasanya
karena gerimis datang dalam keadaan miring
oleh dorongan angin transparan
seperti tendangan kecil tipis-tipis.

Sebelumnya ia sibuk mencari soundtrack
untuk harinya yang biasa-biasa,
supaya hidupnya seperti film-film yang ia beri bintang 5
untuk musik pengiring.

The boat that rocked.
Lagu yang mana ya? Semua bagus.

Ia bayangkan hidupnya terapung sendiri di tengah lautan
dalam deras hujan
tapi ia tau selalu ada telinga-telinga terpasang
siap mendengarkannya dari daratan.
Seperti telinga tuhan.
Dan dadanya membengkak sesak antara geli serta kasihan
pada imajinasinya sendiri.

Bajak lautnya bernama puisi.
Perompak kejam berpedang kata, merampas makna,
meninggalkan rasa hampa di kapal hidupnya yang membosankan
karena terlalu banyak mengarungi tantangan.

Tiba-tiba ia menangis di hadapan bulk mail, spam, trash
dan hal-hal nonsense lainnya. Menumpahkan semua begitu saja.
Tak ada apa-apa dengan account-nya.
Ia hanya merasakan kesepian yang asing,
kebahagiaan yang kikir,
kepedihan yang nikmat,
persembunyian yang remeh. Air mata.

Jiwa kecilnya berlari cepat sekali ke masa lalu ketika
ia suka menulis harapan-harapannya dalam secarik kertas
lalu membakarnya dan membiarkan abunya berhamburan ke angkasa.

Waktu itu dunia tak sebesar yang ia kira, tapi cukup untuknya.
Cukup untuk ia beri warna, ia rawat, ia tinggali sesukanya.
Sampai dunianya diguncang oleh kejadian demi kejadian
dan segala yang telah ia punya bertaburan bertambah
berbenah berkemas bergegas berubah.

Some magical moments.
Terlalu indah.
Terlalu dekat untuk bisa ia dekap.

Ia menangisi waktu
Ia menangisi sejarah
Ia menangisi entah

Tapi telinga-telinga tuhan dalam imaginasinya
tetap setia mendengarnya.
Mungkin mengabulkan pesan di balik tangisannya.


Mungkin.

Wednesday, May 5, 2010

okuribito






ia mengantarmu terbang
dalam ketenangan yang utuh
seperti pagi yang sepi
dan seluruh jiwamu kukuh
dilepas bumi

tentang air mata tak terjemahkan

ia menyayat cello di tengah sawah
latarnya gunung dan puncak tertutup salju
megah
menggugah

tentang kematian yang indah

lagi dan lagi
aku terjatuh
dalam gelembung cerita sendiri

bersama rintik hujan
yang datang dari
kenangan sedihku
di masa dulu


*disebut juga Departures atau Keberangkatan.
Sebuah film Jepang yg indah dan sangat menyentuh...

Thursday, April 22, 2010

Are you sure you want to delete this post?


cappucino panas dalam gelas plastik

di samping jam meja yang bosan berdetik

Malam.

setumpuk novel tak terbaca selesai
karena nyata mengalahkan imajinasi

dengan senjata ampuhnya

Waktu.

setiap aku mulai puisiku
kau menelponku

setiap kubicara di teleponku
kau ada tamu

Terhenti.

Wednesday, April 21, 2010

batu kali


ia tak akan membiarkanmu merusak jantungnya

kalau kamu tak mau kompromi
perilakumu yang seperti batu kali
akan dikikis air kenyataan yang lebih kejam
dari luka yang kau timbulkan setelah melempar diri
ke sana ke mari tanpa kendali

atau bersiap-siaplah tenggelam
dalam badai

karena ia cuma bisa menontonmu
di hadapan layar
televisi

seharusnya kalau kau peduli
serta sedikit saja memberi ruang
untuk yang bernama kesabaran

kau akan baik-baik saja
sebab ia akan mengirimimu
sebutir permen rasa lega

yang artinya lebih besar
dari yang kau sangka

Monday, April 19, 2010

bukan seperti yang kau kira




belum bosan lagu itu ia ulang
sampai tetangganya ingin berganti
telinga

"hanya imajinasi"
"hanya imajinasi"
"hanya imajinasi"

seperti diberi hadiah pelangi di malam hari
dengan perahu bersayap ia anggap
dirinya menjelma tawon raksasa menyengat angkasa
sampai bintang-bintang bengkak tiada tara
lalu pecah jadi hujan aksara
di atas bumi yang membekukan impian-impiannya

setiap malam aku berdoa
setiap malam aku meminta
setiap malam aku mensyukurinya
setiap malam aku lelah karenanya
pada suatu malam aku lupa
hingga tak lagi punya kata-kata

"hanya imajinasi"
"hanya imajinasi"
"hanya imajinasi"


lukisan wortel dalam pigura tak bisa menyehatkan mata

tapi degup-degup di dada seharusnya mendapatkan iramanya
(atau mantra saja?)


butir-butir sepi jatuh
bergelinding
di kaki pagi
yang melangkah jadi puisi


lalu pergi

Wednesday, April 7, 2010

Re: Bangkit*



Sepulang dari bioskop XXI ia memutuskan

bahwa ia patah hati
karena tak punya perasaan apa-apa untuk dibawa pulang
pada jam yang belum terlalu malam

Seandainya sebatang petir menyambar kepalanya
malam itu, terburailah rahasia pikirannya yang hambar
dan merana seperti sebuah gambar beha terselip di
wall fesbuknya yang penuh derita dari cafe world, farmville,
astrology today, mafia wars dan suggestive fortune cookie

Hidup ini sensasional,
dan mimpi ternyata fundamental

Kata siapa kita tak bisa berkata-kata?
sumpah serapah juga puisi
maki-maki bisa jadi nyanyi
bahkan meski kau buta bisu tuli,
tanganmu, raut wajahmu, tubuhmu
semuanya berkata-kata lewat apa saja

Ayo melongok ke dada kita sendiri
meraung keras pada rongga kosong
yang jebol oleh tsunami informasi

Hallo....ada siapa di sini?




*menyambung puisi Mikael "bangkit" di Bunga Matahari

Tuesday, April 6, 2010

danau gelap yang sendiri termangu


sebuah sore di matanya

perahu rindu yang mengerjap jauh di samudera raya

karena selalu waktu
melahirkan sendu
tatkala jarak diukur
dengan kepak kupu-kupu

perpisahan yang kita kenang
seperti gema lagu yang tak benar-benar hilang

"selamat tinggal!" teriak si pujangga
"kau terlalu indah untuk kupunya", keluhnya pasrah
sambil mencengkeram getar remaja di dinding dadanya
yang mulai tua oleh sejarah

karena selalu waktu
menciptakan cemburu
tatkala romansa
hanya bumbu kenyataan biasa

sebuah malam di mataku
danau gelap yang sendiri termangu

Friday, March 26, 2010

Patahan Puisi Yang Tertunda *


suara perempuan berbisik di balik perahu fajar melaju

lautan aksara itu sehiruk-pikuk lalu lintas pikiranmu

tapi telingaku terlanjur menjelma selembar kain robek

yang melayang terdampar di tonggak kayu

dihampar angin-angin pantai yang kasar

tak sabar berkejaran dengan waktu

mereka kah sang puisi itu?



    kumpulannya satusatu terkait di jangkar labuhan

    rindu anak kapal tertulis di jurnal samudera

    puisi panjang tentang amis tubuh laut

    juga karang tempat meluruskan punggung

    seperti apa sang puisi bergema di tepian..?

seperti nyanyian yang karam di karang kesepian
cemburu pada raung amis gelora ombak gumuli peri puisi
sampai pagi bercuitan dan kecipak air jilati pantai
yang kelelahan menyimpan rahasia perasaan

sepanjang mata yang nyalang di lengkung langit
memanggang lautan arungkan perahu petualang

sesabar hasrat yang teredam pesona senja
menelan mata panasnya perlahan-lahan
sebelum malam datang



    o, larik karang di sudut sepi
    terdiam menanti gelora ombak
    karamkan perasaan cemburu

    mungkin tak sepanjang bentang samudera
    yang habis di ujung cakrawala
    gelisahkah..? tidak..!

    biar tenang di ujung senja
    biar lupa pada panasnya
    biar luruh segala ingin



sebaris saja sebelum malam mendinginkan segala
dan hujan membuyarkan semuanya

: tunggu aku di batas hari, perahu ini sejenak bersamadi



    sudah semusim ini aku menunggu
    apa aku masih harus menunggu lagi
    hingga entah berapa banyak hari
    yang telah kuhitung,
    tak berbatas...

    kenapa tak biarkan saja hujan di sini..?



hujan itu bersemayam di rekah petak-petakmu
dari terbitnya pagi sampai terbenamnya malam
ia hanya datang dalam raungan
terkadang tetes-tetes diam

hey,
naiklah kesini
perahu kini melaju menembus kabut tipis
samadhi yang sudah selesai
rasanya segelas kopi wangi cukup sesuai
untuk menemani peri puisi yang telah seberangi
pergantian hari



    o, peri puisi...
    aku pun ingin bercerita
    tentang bagaimana tetestetes itu kerap kali
    singgah di sini meski dia hanya diam

    dan aroma kopimu, cukup menggodaku...



o langit,
awan yang bertahta
gumpal-gumpal putih yang rahasia

bagaimana bisa terbaca
jika pekat kopi kita menghitamkan cerita
di balik tetestetes diamnya
meski harum aromanya?

kau yang tenggelam ke dalam dirimu sendiri
kau yang menorehkan jejak kabur
di peta pelayaran di atas tubuh lautmu
kau yang terluka dan menunggu

sampai ke mana kata-kata kita
mengarung bentang samudera?



    ah, aku hampir saja lupa
    lupa pada janji yang tertaut pada kata
    lupa bagaimana cara aku dan kamu
    membaca cerita di antara pekat hitamnya

    baik kita kembali ke tubuh laut
    mengumpulkan kata dalam jurnal perjalanan kapal
    bawa juga sisa cerita dalam pekat hitam kopimu
    karena kita akan sangat lama
    bergumul dengan amis tubuh laut



tentu
kau sudah menggelar layar sajakmu yang lebar
dan aku diiringii dayung-dayung ajaibku

kita beradu
kita berderu

mana pipa perdamaianmu
ini bukan perang, tapi petualang
ayo hembuskan asap-asap magismu

puff
puff
puff

kata-kata melaju



    sebentar, biar angin datang
    agar layarku terkembang
    agar kau tak juga begitu lelah mendayung
    karena birahi laut sedang bergejolak

    aku tiupkan sangkakala
    seperti inginmu, bukan perang
    meski kita beradu
    meski kita berseteru

    kita melaju di lautan kata...



ahai,

sambil melaju santai
nyanyikan padaku sebuah lagu
tentang beranda rumahmu
dan warna fajarnya yang nila ungu

yang kudengar dari embun-embun
yang menguap sebelum lesap
saat pagi mengendap
malu-malu

merekakah puisi-puisi
yang bersembunyi
dari kejaran waktu?



    ah, itu hanya lagu sendu yang mendayu kelu
    bahkan kerap kali tergugu

    bawakan aku syair lugu saja
    dari anak perawan di negerimu
    tentang apa sajalah
    yang hanya bisa kudengar dari camar-camar laut

    aku rindu sentuhan penanya
    pada tubuh lautku yang bergaram



sekarang aku mengerti
kitalah cucu-cucu puisi
yang lahir dari rahim sepi

melukis gambar rumah dan
negeri kita sendiri

melaut di samudera imaji
menikmati kata-kata menari

asin
amis
manis
pahit

pena maya kita mencatat semuanya

kita harus menyimpannya
di ujung sana
di tempat matahari menancapkan kaki-kakinya

di mana perahu kita harus menurunkan
jangkarnya

di sebuah tempat bernama
senja



    berdiamlah di sana
    sebuah tempat bernama senja
    karena aku pasti kembali setelah lelah
    menghitung jengkal samudera

    tak pernah lelah kaki pena kita menari di atas lembar maya
    seperti kagum laut pada negerimu...


Jogja - Batavia, 230310
*Duet bersama Dwi Rastafara si Fajar Nila

Tuesday, March 23, 2010

cuwid cupid



: evwidput


aku ingin menghadiahimu
kata-kata =

sekumpulan huruf berirama
membentuk makna


seperti kita
yang suka bercengkerama
dengan siapa saja


kadangkala kata-kata terbang

begitu saja dari bibir yang telanjang


seperti kita
yang tak menyangka kemana arah
kereta usia merenda ziarah


ada saat aku

kau
atau mereka

jatuh cinta
hanya kepada kata
kepada kata

kepada kata

kita terbuai
ke alam
yang hanya kita
yang bisa kesana


dan kita simpan diam-diam
rasanya
di dalam dada

menjadi hadiah indah
yang rahasia


seperti yang begitu
ingin kuberikan padamu



kata-kata itu

Friday, March 19, 2010

tak tahu





ada angin dirambutmu
aku berpegangan di situ

tapi kau tak tahu

angin pergi terbang
aku hanyut melayang

kau tersadar dari lamunan
seperti kehilangan sebuah belaian

melemparkan pandangan tersedu
sambil menyebut namaku sendu

tapi aku tak tahu

Wednesday, March 3, 2010

suatu hari setelah lama sekali


kami sudah berjalan. kaki mulai beruban. menghafal jarak,
berkawan debu sampai mengerak.
tak ingat lagi, seperti apa itu
langit puisi. matahari di sini tak punya kebaikan hati.
kaktus sendiri
dan seonggok tengkorak sapi, mati.

tapi masih saja mereka memaksa kami memahami

keanggunan gurun kerontang.
hujanlah harapan,
damba kami yang berpeluh kelelahan.

cinta. cinta siapa entah kemana. romansa hanyalah pengurang
pedih luka,
luka yang tak pernah teraba
tapi selalu ada. semisteri air mata.


jiwa bertemu, umur beradu, gairah bertalu.
lalu kuasa waktu.


hanya kami tak mau pisah, setelah semua kami serah, termasuk permakluman yang gerah, melepas perginya gundah menuju sudah.

Wednesday, February 24, 2010

pada danau yang beku diam


bayang-bayang gunung bercermin

bersamaan pagi yang datang

ambil hidupku
pakailah sebanyak kau mau

kita sudah terasing dalam kesendirian
mengabaikan suara kecil yang meraung
penuh kerinduan dan gema yang bersahutan

dari dada ke dada

kau pikir aku tak tahu
degup malammu
yang kau sembunyikan
di balik raut
kegelapan

kita memenjarakan sepi dalam keramaian
seperti takut ditemukan dan menemukan
oleh yang begitu lama kita dambakan

aku menangkap sayap-sayap sedihmu
yang berguguran di atas gurun kenangan

disitu kita saling menemukan
disitu jejak kita beterbangan

Monday, February 15, 2010

litania semesta



ia jatuh cinta pada hijau-biru langit yang menatapnya tanpa prasangka
ia jatuh cinta pada awan-awan tembaga yang menaunginya setia
ia jatuh cinta pada bibir hujan yang membasahinya dengan ciuman
ia jatuh cinta pada ketakberbatasan yang menerbangkannya

serupa angin yang teraba menerpa, ia jatuh cinta
serupa permohonan yang terjawab meski terlambat, ia jatuh cinta

serupa air mata yang bukan duka, ia jatuh cinta
serupa cahaya yang sempurna, ia jatuh cinta


ia merasa dijalari sesuatu yang murni

ia merasa begitu menyayangi

ia menjelma senja yang bijaksana

ia mewarnai lelehan matahari di batas cakrawala
ia tak pernah ingin pergi


lalu mereka berdansa selekat pagi yang mesra
lalu mereka berjanji tak akan menyakiti

lalu mereka membentangkan gairah imaji
lalu mereka mengobati luka-luka bumi

malam memejam ketika nyanyian mereka tertidur bahagia

malam menyimpan diamnya doa-doa


malam menyiapkan jalan dengan caranya yang rahasia

Thursday, February 4, 2010

Gus Si Kucing Teater*



Gus adalah Kucing di Pintu Teater. Namanya,
karena aku harus memberitahumu sebelumnya,

sebenarnya adalah Asparagus. Memang repot untuk diucapkan,
karena kami biasa memanggilnya hanya Gus.

Bulu-bulunya jembel, dia sendiri sekurus penggaruk,

Dan dia menderita lumpuh hingga kakinya gemetar.

Dulu, semasa mudanya, ia termasuk Kucing yang sangat
cerdas--
Tapi kini sama sekali bukan ancaman bagi tikus-tikus.
Karena ia tidak lagi segagah masa jayanya;
meskipun namanya
dulu cukup terkenal, katanya, pada masanya.

Dan kapanpun ia bergabung dengan teman-temannya
di kelompok mereka
(yang bertempat di belakang pub sekitar)
Ia senang menghibur mereka, jika ada yang mentraktirnya,

dengan anekdot-anekdot dari hari-hari kemakmurannya.

Karena ia dulu Bintang dengan derajat tertinggi--
Ia pernah
berperan bersama Irving, ia berperan bersama Pohon.


Dan ia suka menghubungkannya dengan kesuksesannya di Halls

Dimana Galeri tersebut pernah memberinya tujuh panggilan kucing.

Tapi karyanya yang terbesar, yang suka ia ceritakan,


Adalah Firefrorefiddle, Sang Iblis dari Kejatuhan.



"Aku telah bermain," begitu katanya,"
di setiap bagian yang memungkinkan,

Dan aku hafal tujuh puluh percakapan di luar kepala.

Tanpa persiapan aku bisa merespon dengan tepat,
aku tahu cara berkelakar,
Dan aku tahu cara menguak rahasia.
Aku tahu cara berakting dengan punggung dan ekorku;

Dengan latihan satu jam, aku tak pernah gagal.

Aku memiliki suara yang akan melunakkan hati yang paling keras,

Apakah ketika aku memimpin, atau dalam bagian karakter,


Aku telah duduk di samping tempat tidur Nell Kecil yang malang;

Ketika Jam Malam berbunyi, aku lantas berayun di belnya.

Pada musim Pantomim aku tak pernah membosankan,

Dan aku pernah menjadi pemeran pengganti Kucing Dick Whittington

Tapi karyaku yang terbesar, yang akan diceritakan oleh sejarah,


Adalah Firefrorefiddle, Sang Iblis dari Kejatuhan.


Kemudian, jika seseorang akan memberinya secangkir gin,

Dia akan bercerita bagaimana ia pernah berperan di Lynne Timur.

Pada pementasan Shakespeare ia pernah berjalan diiringi tepukan,

Ketika beberapa aktor menyatakan mereka perlu seekor kucing.

Dia pernah memerankan seekor Macan – dan bisa melakukannya lagi
--
yang dikejar seorang Kolonel India sampai ke dalam got.

Dan ia berpikir bahwa ia masih bisa,
jauh lebih baik dari yang sudah terbaik,
menghasilkan suara
yang membuat darah membeku untuk mendatangkan Hantu.


Dan ia pernah menyeberangi panggung
di atas sebuah kawat telegraf,
Untuk menyelamatkan seorang anak
ketika sebuah rumah terbakar.
Dan ia berkata:
"kucing-kucing sekarang, mereka tidak dilatih

Seperti yang kami lakukan pada hari-hari ketika Victoria berkuasa.

Mereka tidak pernah dilatih dalam kelompok sandiwara,

Dan mereka pikir mereka cerdas,
hanya karena bisa melompati lingkaran kayu. "


Dan dia akan berkata, sambil menggaruk diri dengan cakarnya,
"Yah, Teater jelas bukan yang dulu.

Produksi modern masa kini sangatlah maju,

Tapi tak ada yang sebanding,
dengan apa yang kuceritakan,

momen misteri itu,


Ketika aku membuat sejarah


Sebagai Firefrorefiddle, Sang Iblis dari Kejatuhan.”



*) kuterjemahkan secara serampangan dari Gus: The Theatre Cat
(dari Old Possum's Book of Practical Cats karya T.S.Elliot)