Friday, March 26, 2010

Patahan Puisi Yang Tertunda *


suara perempuan berbisik di balik perahu fajar melaju

lautan aksara itu sehiruk-pikuk lalu lintas pikiranmu

tapi telingaku terlanjur menjelma selembar kain robek

yang melayang terdampar di tonggak kayu

dihampar angin-angin pantai yang kasar

tak sabar berkejaran dengan waktu

mereka kah sang puisi itu?



    kumpulannya satusatu terkait di jangkar labuhan

    rindu anak kapal tertulis di jurnal samudera

    puisi panjang tentang amis tubuh laut

    juga karang tempat meluruskan punggung

    seperti apa sang puisi bergema di tepian..?

seperti nyanyian yang karam di karang kesepian
cemburu pada raung amis gelora ombak gumuli peri puisi
sampai pagi bercuitan dan kecipak air jilati pantai
yang kelelahan menyimpan rahasia perasaan

sepanjang mata yang nyalang di lengkung langit
memanggang lautan arungkan perahu petualang

sesabar hasrat yang teredam pesona senja
menelan mata panasnya perlahan-lahan
sebelum malam datang



    o, larik karang di sudut sepi
    terdiam menanti gelora ombak
    karamkan perasaan cemburu

    mungkin tak sepanjang bentang samudera
    yang habis di ujung cakrawala
    gelisahkah..? tidak..!

    biar tenang di ujung senja
    biar lupa pada panasnya
    biar luruh segala ingin



sebaris saja sebelum malam mendinginkan segala
dan hujan membuyarkan semuanya

: tunggu aku di batas hari, perahu ini sejenak bersamadi



    sudah semusim ini aku menunggu
    apa aku masih harus menunggu lagi
    hingga entah berapa banyak hari
    yang telah kuhitung,
    tak berbatas...

    kenapa tak biarkan saja hujan di sini..?



hujan itu bersemayam di rekah petak-petakmu
dari terbitnya pagi sampai terbenamnya malam
ia hanya datang dalam raungan
terkadang tetes-tetes diam

hey,
naiklah kesini
perahu kini melaju menembus kabut tipis
samadhi yang sudah selesai
rasanya segelas kopi wangi cukup sesuai
untuk menemani peri puisi yang telah seberangi
pergantian hari



    o, peri puisi...
    aku pun ingin bercerita
    tentang bagaimana tetestetes itu kerap kali
    singgah di sini meski dia hanya diam

    dan aroma kopimu, cukup menggodaku...



o langit,
awan yang bertahta
gumpal-gumpal putih yang rahasia

bagaimana bisa terbaca
jika pekat kopi kita menghitamkan cerita
di balik tetestetes diamnya
meski harum aromanya?

kau yang tenggelam ke dalam dirimu sendiri
kau yang menorehkan jejak kabur
di peta pelayaran di atas tubuh lautmu
kau yang terluka dan menunggu

sampai ke mana kata-kata kita
mengarung bentang samudera?



    ah, aku hampir saja lupa
    lupa pada janji yang tertaut pada kata
    lupa bagaimana cara aku dan kamu
    membaca cerita di antara pekat hitamnya

    baik kita kembali ke tubuh laut
    mengumpulkan kata dalam jurnal perjalanan kapal
    bawa juga sisa cerita dalam pekat hitam kopimu
    karena kita akan sangat lama
    bergumul dengan amis tubuh laut



tentu
kau sudah menggelar layar sajakmu yang lebar
dan aku diiringii dayung-dayung ajaibku

kita beradu
kita berderu

mana pipa perdamaianmu
ini bukan perang, tapi petualang
ayo hembuskan asap-asap magismu

puff
puff
puff

kata-kata melaju



    sebentar, biar angin datang
    agar layarku terkembang
    agar kau tak juga begitu lelah mendayung
    karena birahi laut sedang bergejolak

    aku tiupkan sangkakala
    seperti inginmu, bukan perang
    meski kita beradu
    meski kita berseteru

    kita melaju di lautan kata...



ahai,

sambil melaju santai
nyanyikan padaku sebuah lagu
tentang beranda rumahmu
dan warna fajarnya yang nila ungu

yang kudengar dari embun-embun
yang menguap sebelum lesap
saat pagi mengendap
malu-malu

merekakah puisi-puisi
yang bersembunyi
dari kejaran waktu?



    ah, itu hanya lagu sendu yang mendayu kelu
    bahkan kerap kali tergugu

    bawakan aku syair lugu saja
    dari anak perawan di negerimu
    tentang apa sajalah
    yang hanya bisa kudengar dari camar-camar laut

    aku rindu sentuhan penanya
    pada tubuh lautku yang bergaram



sekarang aku mengerti
kitalah cucu-cucu puisi
yang lahir dari rahim sepi

melukis gambar rumah dan
negeri kita sendiri

melaut di samudera imaji
menikmati kata-kata menari

asin
amis
manis
pahit

pena maya kita mencatat semuanya

kita harus menyimpannya
di ujung sana
di tempat matahari menancapkan kaki-kakinya

di mana perahu kita harus menurunkan
jangkarnya

di sebuah tempat bernama
senja



    berdiamlah di sana
    sebuah tempat bernama senja
    karena aku pasti kembali setelah lelah
    menghitung jengkal samudera

    tak pernah lelah kaki pena kita menari di atas lembar maya
    seperti kagum laut pada negerimu...


Jogja - Batavia, 230310
*Duet bersama Dwi Rastafara si Fajar Nila

1 comment:

  1. love it! *mnyodorkan jempolsku untuk klian*

    ReplyDelete