Wednesday, October 6, 2010

pakai sayap patah ini dan belajarlah terbang


lelaki layar bioskop itu mencium tanpa permisi.

ia yakin tubuhnya sedang bukan miliknya sendiri. siapa tadi yang
menyalakan lampu dan melipat kursi-kursi. kepalanya seperti
diinjak-injak semut-semut bersepatu jinjit.

monolog di telepon berjam-jam. suara di telinganya magis sekali
tersusun dari notasi gemuruh ombak laut
menggulung rasa takut dan memuntahkannya di pantai tak henti-henti.

emas dibibir pagi, sinarnya memendar, mencuri pandang pada malam
yang pergi. mengintip sisa gairah gothicnya dalam lelehan cat hitam
di dinding karang dalam kamar mandi.

perlahan-lahan, api di matanya padam.

ia terbang,
tinggi sekali.

No comments:

Post a Comment