Monday, January 14, 2008

Komm Gib Mir Deine Hand


terlambatlah kau obati masa laluku yang terlanjur bolong-bolong meski kau pemilik ladang kapas tanpa tau apa gunanya di sebuah kecamatan terpencil di belantara Flores barat menuju pantai tujuh belas pulau yang oh Tuhan indahnya benar-benar tak punya padanan kata.


tapi ya, mawar hitam yang kita cari itu memang tak ada. juga aku teringat betapa angkuh modernmu runtuh atau lebih suka kubilang lenyap senyap bagai jiwamu dibekap
tatkala pada tiap tikungan angker nan berdesir hembus angin cerita hantu lokal kita temui patung bunda maria berdiri damai di celah batu dan warna biru gaunnya
memudar oleh waktu.

alpukat, lemon, markisa, bunga mawar, bunga santo yosef, terong isap sungguh mengalami masa jaya di tanah yang tiap berapa tahun sekali dijatuhi hujan es batu yang menurut mitosnya seharusnya turun jadi salju di australia. kelontang, kelotak, tuk, tung, dug, tek etek, kletik, klutuk, pung, pang, deng, tis, begitulah bunyinya --tak cuma tik-tik-tik membosankan-- ramai mengisi telinga kota yang jam tujuh malam seterusnya selalu sudah sepi kecuali ada pesta.

lukaku sudah kering. berhentilah menambal-nambal. jalan di depan sana masih berkelok-kelok, jauh tapi luar biasa menyenangkan. sesekali kita akan berjumpa kuda liar berjalan gontai di antara pohon-pohon palem atau ular belang menggeliat di bebatuan. tapi percayalah kau pasti suka. kita akan dibuat terpana dan gembira karenanya. yuk. mana tanganmu?


Jan 2008

No comments:

Post a Comment