Thursday, October 11, 2007

Fatamorgana



haruskah kucari keelokan pada lukisan romansa di dinding ruangan yang diam?


sedang matamu adalah senja. didalamnya sungai cahaya pancarkan kerjap kilau menyeruak dari legam ilalang bulu matamu, menikam tajam ke ronggarongga hampa dadaku lalu gema pantulannya mengguncang seluruh kedirianku


oh jiwa,


yang membeku selama berdetikdetik waktu serta merta meronta
mendamba teduhnya suasana pada pesona kokoh sosokmu, buatku lupa
siksa kutuk cinta selalu saja memenjarakan kata di setiap tatap pertama

oh rasa,

kagumku tertebas oleh batas jarak tak terlihat yang selalu tiupkan
hembusan angin asing di belantara taman hati bungabungaku yang ingin senantiasa kau
sirami hingga akhirnya jadi layu terlalu lama menunggu karena aku enggan mengakui
bahwa kau hanyalah bagian ilusi fatamorgana jiwaku yang kehausan, sekarat dan tak mau mati


Yogya, 1 Juni 2007

No comments:

Post a Comment