Wednesday, March 18, 2009

Puisi Itu


Ia memintal puisi sambil menatap
gunung merapi
menjadi lukisan pagi
di jendela ruangannya

yang beraroma kopi.

Puisinya ia ikat di jam dinding

yang berdetik pelan membelah sepi.

Pada waktu-waktu tertentu
puisi itu melayang
ke mata-mata
yang memandang

jam dinding itu.

2 comments:

  1. ruangan sepi, kertas, pulpen, dan secangkir kopi
    have a great night, dear =)

    ReplyDelete
  2. dan sebaris gerimis yang datang mengucap selamat malam.

    "terima kasih gerimis kecil",
    gumamku setelah ia berlalu

    ReplyDelete