Friday, September 5, 2008

Empat Bait Kemudian


I. penghujung tahun menunggu di pintu gembira

tabungan keringat yang kita teteskan penuh berbunga
kemarin mendung itu menghujankan harapanmu
aku terpekur di tanah basah, membilas serapah


II. memang, takutku beringsut ke batas kuduk meremang
kau pula yang menyirnakannya dengan tenang
muluskah jalan ini meluncurkan mimpi?
mata mesti berjaga menyimak madah rambunya


III. hidup yang adalah cerita pendek berkepanjangan
selalu saja jejak berlubang kita menumbuhkan benih
kenangan yang rimbun, atau gersang sama sekali
sehingga sulit untuk kita temukan lagi


lV. aku bermohon perisai itu selalu ada
seperti dadamu yang baja
sedang senjataku hanya doa
kutembakkan ke mega-mega menggerimiskan lega



No comments:

Post a Comment