aku tak hendak mencorat-coreti tubuhku dengan sepi karena kau garuk kerongkonganku dengan cakar kalimatmu yang tumpul dan menggugurkan kemarahan yang tak lagi berarti
telah kusimpan lelehan matahari dan memendarkannya di malam-malam tak berbintang sebagai tanda bahwa cahayaku tak bisa sirna meski kau coba menimbunnya dengan membalik bola dunia
kini di dalam nebula naga aku menunggu saja keseimbangan yang kuidamkan tiba dalam damainya semesta yang adil tanpa sorak sorai ledakan di angkasa sementara kau mengambang dan menelan segala yang fana
derit kursi mencairkan waktu yang membeku. sama ketika kau nyanyikan lagu tentang hari-hari yang bukan milikku sambil menggulungku dalam gelembung sendu. menggelinding jauh ke masa kala dunia adalah taman yang sempurna dan kutanggalkan sayapku demi menghirup udaranya.
lalu lagumu usai dan gelembungnya terburai menjadi pasukan gerimis yang berbaris menjatuhkan diri satu per satu dari pintu mataku