Friday, August 8, 2008

Largo E Pianissimo Sempre*


musim semi itu menggesek dedaun kalbu

liriknya lirih memendung

getar sayatnya tersedu

gugur aku mendebu

gugur mendebu kabur


*karya Antonio Vivaldi

Thursday, August 7, 2008

Tarian Bunyi



di dadaku ada telinga menangkap bunyi yang menari,
kadang seperti tabla berkedut, kadang dengung gemetar

tiap kupejam mata terlihat warnanya, bergerak
bergoyang, memencar, terpecah, mengerjap

lidahku menuliskan lirik, diluncurkannya sedikit-sedikit
memberi kata, memberi makna, mengiringi tariannya

mereka berpeluk, melebur menjadi lagu
dalam dadaku, dalam diamku



Sebuah Ulang Di Dalam Tahun


: halov


sangat sayang padamu cahaya atas langit
ragamu yang pagi, menerbitkan mimpi-mimpi

jauh, detik melabuh segala luruh ke kaki simpuh
untuk syukur aku bertelut meramu litani terseduh

angka berdetak, maju sepetak demi sepetak
langkah hitung kecambah usia di bekas jejaknya

nafas itu datang dari keajaiban ruh dihembus cinta
menggenapimu, mengosongkanmu, menumbuh kamu

ragu-meragu kadang tapi maju mesti tertuju
bunga, bunga di dadamu menjaga setia wangi

terbuang, tertinggal, terlahir jadi hari
lembaran polos yang terus kau isi sampai akhir nanti

sebuah ulang di dalam tahun
sebuah madah khusus kulantun


Wednesday, August 6, 2008

Rumah Puisi


kami memintal hujan

menjadikannya tali berpegang
ketika menjejak tangga sajak

"selamat datang sunyi",
tirai terayun itu menyambut langkah jenjang kami

tempat yang luar biasa
semua aksara seperti berjalan dalam tidurnya
lenggak-lenggok mereka anggun
selayak nafas yang tenang teratur

tanpa suara
pada tiap formasinya
tubuh mereka memancarkan warna
angan impian yang berpendar aneka rupa

kami mengambil awan
menjadikannya bantal-bantal nyaman
ketika melebur di rumah puisi


Tuesday, August 5, 2008

Aku Angin


aku angin

merayapimu dengan suka-suka
dengan aksara yang tersemat
di penampang bibir berwujud doa
yang menjadikannya nyata

aku angin
merayapimu dengan suka-suka
dengan bahasa yang tak susah
ditelan telinga berupa makna
yang indahnya sederhana

Niko's Letter to Ratna*


the two sit

under the old bodhi tree

you slip the turquoise story

on the feet of the haggard hermit


* one of the keroyokan translations of Kris Budiman's Surat Niko Kepada Ratna (http://antikris.multiply.com/journal/item/53)



Sekedar


: alit



maka bermimpilah dalam senyap
jiwa harus terjaga seperti bunga hidup
di atas meja dalam sebuah kantor tua


penawar di bawah pohon tanjung itu
mengingatkanku deru kereta

tawa kalian sepulang main bola
dan arang yang membuat kopimu mengepul
dengan bara merah

menyala


Saturday, August 2, 2008

Kesetrum Contre Tarkovsky-nya MJ*



aku sendiri menghajar malam dengan pedang tubuhku


membelah angin menuju gading mas sekitar


pukul sebelas setelah kupulangkan laptopmu
sedang

bau hangat from hell serta wajah johnny depp


dan heather graham bertengger di tepi ingatanku


kulempar jaket hijaumu ke atas ranjangku


kura-kura lilin yang wangi itu ingin kutendang


dengan gaya kungfu suka makan si po
lalu

terngianglah apa yang masternya bilang
tentang

kemarin juga esok dan bahwa hari ini
adalah

hadiah tapi bila berakhir marah
apakah ketika

aku lari ke layar maya
menjadi salah karena ternyata

lambat eja bisa
disebabkan oleh hanya terlalu lama

menatap
lasagna masuk ke dalam mulutnya

'you're way too much'

jeritku pada jari-jari yang terus menggerayangi

masa dulu kau dan aku

hatiku seperti bibir gelas yang menempel ke bibir


yang haus bir tapi cuma bisa mencibir karena
busanya

membuat tenggorokanku berlendir
sehingga

aku nyaris muntah di tembok kemproh


tempat lukisan penari balinya mendelik bodoh

ke sebuah kursi yang tak kokoh

begitu mudah roboh


dengan sekali hentak kaki

bubarlah misteri

berlari panik dikejar

sepotong puisi



*kesetrumlah sendiri di: http://thetruthaboutjakarta.multiply.com/journal/item/292/Contre_Tarkovsky

Membalas Seperti-nya Ney*



seperti berkelahi dengan mimpi

terperangkap di jeruji marah sendiri, seperti taburan
paprika di atas pizza panas berbau pedas, seperti
malam minggu sendiri dan listrik mati, seperti
membalas puisi dengan menjentik jari

"snap"

seperti lelah merayap
di hari yang gelap
ingin segera lelap



*di milis Buma

?


jadi


itu topeng penghadang
dinding angkuh menjulang
rapuh berlagak garang

aku tak berlari
tak takut hadapi

meski

hujan sedang sumbang
lukamu mengejang
darah kering retak
dipenuhi jejak

sebab

aku sedang muak
pada segala yang jarak
warna berbeda
bahasa tak sama

bukankah
memang
begitu
kita
sejak
lahirnya


lalu
?

Friday, August 1, 2008

Sepotong Senja Yang Kupenggal Untukmu


aku memenggalnya, khusus untukmu :


sepotong senja yang sudah beranjak ungu

dan masih lembut dengan tiupan udara malam

dan lukisan langit yang nyata yang kuambil

sebelum ia benar-benar hitam tak terlihat

setelah mentari menutup kelopak matanya

di balik bumi yang mulai padam


ini ...


* inspired by SGA's words


Thursday, July 31, 2008

Lukisan Bertemu


di timur sini matahari biru

pendar-pendarnya ungu
buatmu tergetar haru

di barat situ udaramu cokelat

harum manisnya nikmat

hasratku berkilat-kilat


waktu bingkaiku kau buka

aku bisa menghirupnya

sedap luar biasa


waktu kau kudatangi

kau takjub sembari

menatapku lagi-lagi


mata kita beradu

kureguk kamu sepuas-puasku
kau nikmati aku sesendu-sendumu


Katadalahdoa


bibirmu sesedap spaghetti marinara


kita berciuman di dalam kapal selam

sesudah itu menjadi beruang kutub

tidur nyenyak sepuasnya

bermimpi naik helikopter

memberitakan kesenangan

pada awan-awan

lalu turun serupa hujan

berebut berlomba siapa

tiba dimana dengan bunyi ting tok

tang tis tuk tung des tek toing

yang riang seringan angin

membasahi kerontang

jiwa kisah kering

menguning

sekuning spaghetti marinara

mari menari menanti kabar gembira

doa kita diterima

diterima

diterima


Tuesday, July 29, 2008

Rapid Eye Movement


sore terampas dari wajah kota

daun terserak di jalanan
terseret angin menggaruk aspal hitam
kaca-kaca memantulkan langit kelam
malam datang kepagian
tiang-tiang kedinginan

cahaya terpancar dari banyak mata mereka
yang gerayangi bangunan sampai taman
merampas tawa di almari hati
mencabut sukacita pepohon rasa
menabur kesenyapan

lalu gema dari lorong gelap mengalir
memenuhi gang-gang membanjirkan
kecemasan, meluapkan ketakutan
menenggelamkan kepasrahan

orang-orangan di bianglala itu tersenyum abadi
diiringi lagu sirkus dan badut-badut otomatis
bergerak kesana kemari seperti mimpi gelisah
di balik katup bola mata bergerak acak
dan jiwa yang meletup-letup mendesak
berteriak "selamatkan aku dari fantasi muram ini!"


Friday, July 25, 2008

Untuk I***


serobek kertas bermata emas

satu wajah seribu topeng
satu topeng seribu wajah
siapa? siapa?

kubuntuti kau sampai
halamanmu yang malas
penuh celoteh unggas
berbalas catatan kaki

aku pemulung
aku penjahit
aku pengrajin
aku penenun
aku penenung

perca-perca itu kudapati
dari guguran pesan udara
yang jatuh di kepala

mengisi lembar-lembar dengan makna

satu yang kau robek
memuat cerita

jari-jari yang melipatnya
hela nafas yang menghembusnya
lekukan-lekukan hasilnya
akan melanglang buana maya

kau lihat pesawat kertas itu?
ia menerbangkan puisi-puisimu



*inspired by her own lazy page at:
http://kemalasan.multiply.com/


Sampai Pada Kesimpulan


bahwa yang kau inginkan adalah cerita

tentang perempuan kesepian
dalam pondok kecil di padang rumput menguning
dengan seekor kuda yang patuh setia padanya

lalu suatu musim angin datanglah pengelana
lelaki misteri yang singgah
meninggalkan jejak-jejak berlubang di dadanya
menyemat kenangan di ranjang kayunya

kau suka bagian ketika si perempuan
bercakap sendiri dengan bayangannya
yang bergerak-gerak terkena cahaya pelita
kala malam mengosongkan langitnya

juga ketika ia bernyanyi sambil mengeringkan diri
sehabis membasuh tubuh sepinya di telaga warna
dan melumurinya dengan aroma bunga

aku tahu matamu berkaca ketika suatu siang yang terang
sebuah pusaran angin datang menghempas ketenangan
menerbangkan segala kesunyian
melambungkan sang perempuan
ke sebuah kata bernama hilang

sampai sesudah reda kau tak mau
tahu akhir kisahnya
kau hanya ingin kembali ke bagian pertama
menjadikannya abadi, mengurung kisah itu
dalam sunyi benakmu

Thursday, July 24, 2008

Ya


kupu-kupu hinggap di telingamu


dihantar angin yang masuk dari

celah-celah kaca berukir

setinggi atap gereja


mereka berbisik tentang rahasia

suara genta yang mengiang di daun jendela

ruanganmu pada waktu-waktu tertentu


katanya itu pertanda

di luar langit biru

ada mereka yang

sangat menyayangimu


ya

menyayangimu

kata kupu-kupu itu


Untuk YN


sudah tertautkan temali pusarku di pusaramu

bersama angin beriring menggelitik masa kecil
yang terkikik geli pada hampar hijau
di mana dinding tebingnya setia mencatat
gendhing yang terinjak kala kakiku menapak
lebih jauh tiap tiga ratus enam

puluh lima hari sekali

meski ingatanku melumut keunguan kau masih
bisa melihat pantulan bayangan di awan-awan
ketika langit biru jernih berubah kemerahan
dan kapal-kapal negeri seberang merapat
di pelabuhan tangisan tempat ia yang sama-
sama kita cinta menangisi hidup dan matinya
di pesisir pantai pedih

pasirnya yang berdesir itu tertinggal di jantungku
terus mengalir selayak jam waktu menjaga
rinduku kekal kelabu mengenangnya
mengenangmu dalam darahku

Y,240708

Orang-orang Yang Berjejalan


aspal mengepul sehabis diguyur hujan peristiwa.
katanya semua serba terbalik dari sudut pandangnya.
katanya semua tertipu lapisan langit berlapis ganda yang
lapis depannya berwarna gelap memiliki robekan bulat
dilembarannya sehingga lapisan belakangnya yang
berwarna kuning pucat menyeruak kala gelap dan
kita namai bulan. bulan! betapa kita dihajar keras untuk
memberi alasan pada segala sesuatu agar hidup bisa
berjudul dan berakhir indah seperti
harapan-harapan yang dijual media.

jika naga yang kau pelihara itu menetaskan
telur telur emas maka mari berdoa agar raja-raja
yang lahir dari sana berkuasa bijak
atas diri mereka sendiri.

orangorang yang berjejalan seperti septitank kepenuhan
hembuskan aroma eksotis gas alam asli manusia
yang segera menari di udara, memenuhi segala
ruang kecil di kepala sesak sesak pengap
menjelang mau pecah.

kota besar kota kecil desa kota kampung kampung
dan wajah wajah plastik membungkus jiwa kerdil
yang belum berhenti teriakkan lantang perang
bersaing dengan bencana alam serta kecerobohan
tangan tangan mungil kita.

bulu bulu halus rajawali yang berguguran
dari pesta pora kesedihan yang tiada henti.

ohh, come on...


Y, 17 Nov 06

Wednesday, July 23, 2008

Cinta Untuk Nainawa


Mungkin kemungkinan itu tak akan memungkinkan,
candanya di meja makan tentang hidup yang dijejali ketidakpastian.
Katanya, pengetahuan adalah obat bagi kebodohan.

Filosofinya tak terbantahkan
bahwa kita harus hormati nenek moyang.
Tanpa mereka kita tiada, meski kita tidak minta.

Ia puitis,
sesekali protes pada lirik the cranberries.

Ia ajariku menari dengan hati,
ujud syukur bagi padi dan ibu bumi
karna senantiasa mencukupi kita yang serakah ini.

Selalu mengerti dan tegak berdiri dihadapan segala tragedi.
Kemarahannya, lidah api di kilau mata.
Bijak sederhana dalam ketenangan,
ia hantarkanku temukan Tuhan.

Pelukannya surga nyaman
di buaian nyanyi peri peri hutan.

Enyah dari cucuku!
ia membawa darah suku.
Setetesnya sama berharga dengan seluruh nyawamu.
Perintahnya pada para pengganggu.

Mungil kata kata
adalah persembahan cinta yang menyala-nyala
untuk Nainawa,
lelaki gunung yang namanya bergaung
di bukit bukit jiwa.

Terima kasih Opa.


Nov292006

Tuesday, July 22, 2008

Tak Apa Tak Sempurna


kita

mestinya
merasa
bahagia

karena

sederhana
adalah
luar biasa

Monday, July 21, 2008

Mercy


kasihmu tak berbatas

sungai yang mengalir tak henti-henti
menyuburkan, menyegarkan, menghidupi

aku setunas rumput kecil
tak luput dari rahmat
kau perhatikan sampai detil
selalu kau rawat

jika ku sepi sendiri
kau beri ku teman

jika ku sakit
kau hadiahi kesembuhan

jika ku sedih
kau ganti kelegaan

apakah yang dapat diberi

setunas rumput kecil

pada sungai yang tak pernah berhenti

mencintainya

selain syukur

dan memuliakan namanya

sepanjang umur
sepanjang masa

Friday, July 18, 2008

Cantik Itu Apa


Apa Itu Cantik


Cantik Apa Itu

Itu Apa Cantik

Apa Cantik Itu

Itu Cantik Apa


haa?

Wednesday, July 16, 2008

Marinaro


bungkam khayalmu di garis batas pelangi

dan tidurlah kau kelelahan
terdampar di pantai sepi
melangutkan harapan kemilau butiran pasir

jika memang cakrawala itu ada
bukan dari rahim siapa kita datang pertama kali
karena ruhnya mengecap asin manis
yang sama dengan pahatan lekuk berbeda

pelayaranlah menentukan kemana kemudi
mengantar cadik nasib arungi lautan cerita
ketika kenangan timbul tenggelam
kesedihan dan tawa tersebar mengapung terselam
juga karam ke palung-palung rahasia

siapakah kita,
nelayan jelaga memilin angin
memanggang kulit daging
melegam diri di kaki matahari

menjala bahagia
ke dasar peristiwa

15 Juli*


kau berada dalam sebuah

kereta yang melaju membelah pagi
teramat pagi karena kabut masih menyampuli
pohon daun jalan tiang bangunan jendela

: embun adalah penguasa

dingin yang menusuk pori-pori seperti
nyanyian menjilati kantuk yang masih
meringkuk malas di permukaan wajahmu
yang terayun antara impian hangat ranjang
dan tujuan kemana kakimu harus melenggang

seorang diri dalam sebuah
kereta yang melaju membelah pagi
membuatmu seperti ingin menangis
tanpa alasan apa-apa sekedar membulirkan
tetes haru biar sejuklah dadamu

menghirup angin baru, usia yang mencatat
jauh perjalananmu, ceria kanak-kanakmu
semangat remajamu, bijak dewasamu

: merayakan waktu kelahiranmu


*SELAMAT ULANG TAHUN OM URIP HK
(http://theurhekaproject.blogspot.com/)

Tuesday, July 15, 2008

Lihat Saja


seperti perahu kelebihan muatan

hasratmu berlayar oleng nyaris
tenggelam di danau waktu

: sesekali memang harus karam

siapa yang peduli
karena jubahmu dari besi
armadamu melimpah ruah
segala inginmu dipenuhi sampai tumpah

tapi masih juga kau jarah

bunga-bunga ceroboh dan pepohon kokoh
yang mengiring-imbangimu biar tak roboh
dalam kekaguman yang kau namai kelemahan
untuk menjejali rakusmu tak berkesudahan

semesta memaafkan
namun juga menghukum kelak
ketika karma tak mampu kau elak


Monday, July 14, 2008

Dari Ini Ia


Darimu mulai biji serapah bertumbuh, bertunas,
berdaun, meninggi, membesar, mekar, memanjang,
ke dalam, ke atas, ke luar, ke bawah, ke samping,
bercabang, mengakar, melilit, menjerat, mengetat,
mengikat erat semakin erat cengkeramnya
amarah tertahan sepanjang persemaian.


Ini sabar ini pengertian ini kebaikan
ini permakluman ini maaf ini ampun ini ikhlas
ini lupa ini luka ini jejak ini toreh yang kau pupuk
kau sirami kau rawat kau siangi kau besarkan
kau lewatkan kau lalaikan.


Ia lalu beronak beruncing bertajam bersiap
menikam mengancammu sendiri jika
tanpa hati-hati menyentuh benih
yang kini utuh menjadi pohon benci
penuh duri menaungi tanah subur
penuh humus rampasan dari sana sini.

Friday, July 11, 2008

Pasti Ada


pasti ada jalan

meski malam segelap hitam
dan pintu-pintu sulit dibukakan

pasti ada terang
meski redupmu nyaris padam
dan cahaya seperti lamunan

pasti ada kau dapatkan
impian yang setia menunggu
di ujung jalan terang

Natalia


ia pernah berlari begitu saja

menghambur memelukku erat
berseru: I miss you

lalu melesat secepat kilat
bermain lagi sambil sesekali
kembali untuk mendekapku
tanpa kata-kata

ia pandai sekali mengutip
percakapan film kartun
yang ia sukai dan mempraktekkannya
di depan kami lalu tergelak sebelum kami
sempat paham di mana letak lucunya

ia pernah menangis menjerit-jerit
ketika kami harus dipisahkan malam
untuk pulang ke rumah yang berbeda

ia menciptakan lagunya sendiri
hip-hop natalia yang ia nyanyikan
di telinga kami semua

ia pergi dalam tumpahan cinta kami
yang mengalir jauh dari seberang negeri

selamat jalan Natie ...*




*Natalia adalah anak perempuan Jackie teman kami,
yang meninggal beberapa hari
yang lalu di USA.
Kami semua sangat kehilangan dan berduka atas kepergiannya.

Thursday, July 10, 2008

Membalas Balasan Hani Heartbeat*



pada musim yang kau namai semi

bunga-bunga penuh dari halaman
vas bunga hingga motif tirai jendela

hitam putih menggarisi waktu memberi
batas tegas mana hari ini mana masa lalu

mengapa harus lari sembunyi
ketika mimpi membayang diri

pada baris-baris gerimis kenangan diikat
oleh tali haru meluncur dari awan rindu
sepilah sendu terkuyup meluruh gugur
segala kuncup sedih mendekap pesan matahari

pada musim yang kau ingin berseri


* di milis Bunga Matahari

Wednesday, July 9, 2008

Malam Menggenang di Matamu



malam menggenang di matamu

taburan bintangnya mimpi
berlayar tenang dalam tatapan

aku terhisap pelan

Tuesday, July 8, 2008

Bersama


kaki kita hinggap di kota kecil


pada dingin
pada basah
pada hujan
yang tercurah-curah

aku mulai berdoa
kau berjaga-jaga

bayang lilin wajahmu
menari di bawah payung

seperti relief memahat pintu langit
matamu harapan terujung
daun mimpi

bergetar mencari matahari
negeri bersari madu
memuaskan dahaga rindu

setelah pejam usai
jalan itu sudah menunggu

tanganku digenggamanmu menggigil

kaki kita melaju tinggalkan kota kecil


Juli ke Juli


"Sepi itu kampung halaman yang rindu dipulangi,"

katamu sambil mengikat tali sepatu.

"Mereka lebih sabar menunggu kita yang pergi."

Dan aku terbayang lonceng sekolah berayun sendiri di hari libur
ketika angin turun dari bukit-bukit yang tidur.
Kau mengibas rambutmu terurai lepas.



Monday, July 7, 2008

Gadis Yang Memanjat Ke Langit


Suatu pagi beberapa gadis muda meninggalkan desa tepee
untuk mengumpulkan kayu api. Diantara mereka terdapat
Sapana, gadis tercantik di desa, dan dialah yang pertama kali
melihat landak duduk di kaki sebuah pohon cottonwood tinggi.
Ia berteriak kepada teman-temannya: "Bantu aku menangkap
landak ini, dan aku akan membagi durinya pada kalian."

Sang landak bergerak memanjat lebih tinggi,
namun dahan pohonnya dekat dengan tanah
dan Sapana dengan mudah memanjatnya.
"Lekas," serunya, "Landak itu memanjat semakin tinggi.
Kita harus menangkap agar durinya bisa digunakan untuk
menjahit moccasin* kita." Ia mencoba memukul landak itu
dengan kayu, tapi landak itu memanjat semakin jauh dari
jangkauannya.

"Aku mau duri-duri itu," kata Sapana. "Jika perlu, aku
akan mengikuti landak ini sampai ke puncak pohon."
Tapi setiap kali ia memanjat, sang landak selalu lebih tinggi
darinya.

"Sapana, kamu memanjat terlalu tinggi," salah satu
temannya memanggil dari bawah. " Sudahlah, turun saja."

Tetapi ia terus memanjat, dan ia merasa pohon
itu terus memanjang ke langit. Ketika ia mendekati
puncak pohon itu ia melihat sesuatu di atasnya,
kokoh seperti tembok, namun bersinar. Itu adalah langit.
Tiba-tiba ia menemukan dirinya berada ditengah-tengah
lingkaran tenda-tenda. Pucuk pohon telah hilang,
dan sang landak telah berubah
menjadi seorang laki-laki tua berwajah jelek.

Sapana tidak menyukai tatapan lelaki-landak itu,
namun ia bicara dengan baik kepadanya dan mengantarnya
ke tepee, tempat tinggal ayah ibunya.
"Aku telah mengawasimu dari jauh," katanya.
"Kamu tidak hanya cantik tapi juga tekun.
Kita harus bekerja sangat keras di sini, dan aku mau kamu
menjadi istriku."

Sang lelaki landak langsung menyuruhnya bekerja sejak
saat itu. Menggosok dan menggaruk kulit kerbau dan
membuat jubah. Pada petang hari, Sapana keluar dari tepee
lalu duduk sendiri dan memikirkan bagaimana caranya
supaya ia bisa kembali ke rumah. Segala yang ada
di dunia langit berwarna coklat dan abu-abu, dan ia merindukan
hijau pepohonan dan rerumputan di bumi.

Setiap hari sang lelaki landak pergi berburu,
membawa pulang kulit landak untuk di kerjakan Sapana,
dan di pagi hari ketika lelaki itu pergi, Sapana bertugas
untuk menggali lobak liar.
"Ketika engkau menggali akar-akaran, berhati-hatilah,
agar tidak menggali terlalu dalam," lelaki itu memperingatkannya.

Suatu pagi Sapana menemukan sebuah lobak
yang luar biasa besar. Dengan susah payah ia mencoba
mengumpil dengan kayu penggalinya, dan ketika ia mencabutnya
ia terkejut bahwa itu adalah lubang yang membuatnya bisa melihat
ke bawah, ke bumi hijau. Jauh di bawah ia melihat
sungai-sungau, pegunungan, lingkaran tepee dan orang-orang
berjalan-jalan.

Sapana kini tahu mengapa si lelaki landak memperingatkannya
untuk tidak menggali terlalu dalam. Karena ia tak ingin lelaki itu tahu
bahwa ia telah menemukan lubang di langit, dengan hati-hati ia
mengembalikan lobak tersebut. Dalam perjalanannya kembali ke tepee
ia memikirkan cara untuk turun kembali ke bumi.

Hampir setiap hari si lelaki landak membawa kulit kerbau
untuk ia kerjakan menjadi jubah. Saat membuat jubah, selalu ada
sisa helai urat, dan ia menyimpan helai-helai tersebut
di bawah tempat tidurnya.

Ketika dirasa cukup, Sapana membuat tali yang panjangnya
cukup untuk mencapai bumi. Suatu pagi setelah si lelaki landak
pergi berburu, ia mengikat seluruh tali tersebut dan pergi
ke tempat ia menemukan lobak besarnya dulu. Ia mengeluarkan
lobaknya dan menggali lubang yang lebih besar agar cukup untuk
tubuhnya. Ia meletakkan kayu penggalinya melintang dan mengikat
ujung tali kulit di tengah-tengahnya. Lalu ia mengikat ujung tali
yang satunya ke tubuhnya sendiri. Perlahan ia menurunkan tubuhnya
dengan membuka gelungan tali.

Waktu berlalu hingga ia sudah cukup jauh ke bawah danbisa melihat
pucuk-pucuk pepohonan dengan jelas, namun ia juga tiba di ujung talinya.
Talinya kurang panjang untuk mencapai tanah dan ia tak tahu apa yang
harus ia lakukan.

Ia bergelantungan lama, berayun ke belakang dan ke depan
di atas pepohonan. Sayup-sayup di kejauhan ia dapat mendengar
anjing menyalak dan suara-suara orang di desa tepeenya, namun
orang-orang terlalu jauh untuk bisa melihatnya.

Setelah beberapa saat, ia mendengar suara dari atas. Talinya
berguncang sangat keras. Batu-batu meluncur dengan cepat
dari atas menjatuhinya, dan ia mendengar si lelaki landak
mengancam akan membunuhnya jika ia tidak memanjat
kembali ke atas. Batu-batu berdesing di telinganya.

Pada saat itu seekor Elang terbang berkeliling di bawahnya.
"Kemari dan tolonglah aku," ia memanggil Elang itu.
Burung itu meluncur di bawah kakinya beberapa kali,
dan Sapana bercerita tentang apa yang terjadi padanya.

"Naiklah ke punggungku," kata Elang itu,
"dan aku akan membawamu ke bumi."

Ia menaiki punggung sang burung.
"Kamu siap?" tanya Elang.

"Ya," jawab Sapana.

"Lepaskan saja talinya," perintah sang Elang.
Ia mulai terbang turun, namun Sapana terlalu
berat untuknya, dan ia meluncur ke bumi terlalu
cepat. Ia melihat seekor Rajawali terbang di bawahnya.

"Rajawali," teriaknya, "bantu aku mengantar gadis ini
kembali ke orang-orangnya."

Sang Rajawali terbang dengan Sapana di punggungnya
sampai Sapana bisa melihat tepee keluarganya dengan
jelas di bawahnya. namun Rajawali mulai kelelahan,
dan Elang harus membawa Sapana kembali ke punggungnya.

Elang meluncur begitu cepat melalui pepohonan dan mendarat
tepat di luar desa Sapana. Sebelum Sapana sempat berterima
kasih, sang Elang telah terbang kembali ke langit.

Sapana beristirahat beberapa saat dan mulai berjalan pelan
sekali ke tepee orang tuanya. Tubuhnya begitu lemah dan ia
sangat kelelahan. Di jalan ia melihat seorang gadis berjalan
ke arahnya. "Sapana!" jerit gadis itu. "Kami pikir kamu sudah mati."
Gadis itu membantunya berjalan ke tepee.

Mula-mula ibunya tak percaya bahwa itu adalah anak perempuannya
yang kembali dari langit. Lalu ia membentangkan lengan, memeluknya
menangis.

Berita tentang kepulangan Sapana menyebar sangat cepat ke seluruh
desa, dan setiap orang datang untuk menyambutnya.
Ia bercerita kepada mereka tentang kisahnya, khususnya
kebaikan yang telah ia terima dari Elang dan Rajawali.

Sejak itu, setiap orang-orang sukunya melakukan perburuan besar,
mereka selalu melepaskan satu ekor kerbau untuk dimakan
oleh Elang dan Rajawali.



Kuterjemahkan dari The Girl Who Climbed to the Sky
http://www.indians.org/welker/heron.htm

Friday, July 4, 2008

Ternyata


setubuh perempuan berbalur doa, merayap di denyut sedunya
di antara tulisan borges berserak jenaka, mengejeknya tersesat
pada peristiwa nyawa maya berguguran

bagai badai daun sehari saja, semarques saja.
ingatannya merayap seperti batang labu mencari harap
di tanah ragu. hatinya penuh rumusrumus.
belahan jiwa serius menyantap bahasa

yang bukan lidah ibunya. kendati hiperumbertolah diri
hingga mata cenayang itu akhirnya
meminta kecanggihan terbaru. buat memastikan segalanya
baik saja lewat layar kaca tatkala telapak elektronik

meraba raga gemetarnya. serat sajak-sajak tersenyum
di perutnya, di dadanya, di tengkuknya, di lututnya.
lagu -lagu berhembus racun terbuang
dari mulut sembahyang tenang.
pergi! seperti nenek sihir mengusir angkara

dari roh yang sederhana dan cuma punya cinta.
oleh-oleh apa di wajahmu itu: "lega", katanya.


Thursday, July 3, 2008

Aku Bicara Kepada Angin


Kata lelaki tepat kepada lelaki lambat

Dari mana saja kau
Aku telah kesini dan aku telah kesana
Dan aku telah ke antaranya

Aku bicara kepada angin
Kata-kataku terbawa pergi
Aku bicara kepada angin
Angin tak mendengar
Angin tak dapat mendengar

Aku di luar melihat ke dalam
Apa yang kulihat
Banyak kebingungan
Disilusi
Disekelilingku

Kau tak mempengaruhiku
Tak mengesankanku
Cuma mengecewakanku
Tak bisa memerintah atau mengaturku
Cuma menghabiskan waktuku

Aku bicara kepada angin
Kata-kataku terbawa pergi
Aku bicara kepada angin
Angin tak mendengar
Angin tak dapat mendengar



*Judul asli: I TALK TO THE WIND by Ian McDonald and Peter Sinfield.
Liriknya kuculik dari blognya om UHK (http://theurhekaproject.blogspot.com/)
lalu kualihbahasakan, secara suka2, tentu saja ;-)

Ogle


kulit berminyak


lelehan kutuk yang lumer oleh magisnya

nama kakek moyang kita


jika langit adalah wajah yang tertawa


pelangikah senyumnya?


keajaiban datang tanpa peringatan

tapi diharapkan

seperti hujan di penghujung malam

tidurmu semakin deras sewaktu

kenyataan basah kuyup diguyur mimpi


tukang tenung telah pergi

ke bulan berakhiran i


buka pintu

kejutan menunggu di situ

tangan yang gemetar memegang gagang

redakan dulu


pick

a

boo!


segera kemasi barangmu

kita melaju


Aku Juga Mencintaimu


aku juga mencintaimu


dalam diamku
dalam jarakku
dalam sepiku

aku juga mencintaimu

dalam bencimu
dalam jauhmu
dalam keramaianmu

aku juga mencintaimu

dalam
dalam
dalam

Re: Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai di Dalam Gelas*


tunggu,

kita masih belum selesai

aku tahu bayang siapa di dasar gelas
yang terpantul dari kepala anggurmu

ketika hujan menikam tatapan kita pada dokar yang melaju
dan angin basah mengipas ujung-ujung rokku
tidakkah kau bercerita di balik altar masa lalu?

sedang aku melayang ke tentu saja, sang bintang utara

bagaimana bisa selesai
jika lingkar samsara begitu membuat lena
: doa terdaras di tiap bulir rosari
aroma subuh ditingkahi bunyi lonceng gereja
rasa lega setelah bulir beras menempel di dahi

percayalah,
banyak yang minta pada Tuhan agar jangan selesai
meski ada juga yang menyudahi sebelum waktunya usai

dan kita selalu bertemu lagi
tidak sekarang, mungkin nanti
seperti pada suatu pagi
di stasiun kereta api

aku mabuk hidup
kau juga

nikmat sekali
bukankah?



* jawaban atas puisi om Urip HK (http://theurhekaproject.blogspot.com/)
di milis Buma & Apsas

Tuesday, July 1, 2008

Hatimu


hatimu sungai
mengantar gemericik sejuk

mata air bening tempatku berkaca
mencari pintu yang terbuka
selalu terbuka
buatku pulang kesana


hari dini aku tak pernah sendiri

hatimu selimut penghalau dingin
yang menyayat
lewat sunyi- sunyi
tiap aku bernyanyi
mengusap tepi daun
kelopak bunga
pula akar jauh nun di dalam sana


hatimu angin menghembus utuh memeluk teduh

segalaku yang tak sempurna

pada takut ku bertelut
kau meniup jiwa ciut
mengembang sayap membentang jalan
hatimu seluruh perkasaku




Monday, June 30, 2008

Eksposisi Debar


Di bawah hati kecemasan berjalan kesini kesana.

"Bukan apa-apa", degup langkahnya menggema.
Cuma bekas luka yang nyeri atas kenangannya.

Ia sudah bersabda,
dan kau sembuh karenanya.

Wednesday, June 25, 2008

Padahal


setengah mati

ia mengunyah huruf
mencerna makna

dan lidahnya mendecak rasa

lalu bersendawa
--cuma kata--
bunyinya

Tuesday, June 24, 2008

Lalu Orang-orang Malam


kadang dengan wajah pucat merayap
memberi warna pada gelap
merengkuh sinar orang-orang pagi
yang mulai jatuh lelap

mula-mula mereka menyalakan
satu kedip bintang harapan, meletakkannya
secara serampangan, lalu menggandakan
kerlip-kerlip bertebaran mengisi kelamnya
samudera malam

di bawah pancaran temaram
mereka bekerja menyisihkan kenangan
mengolah kenyataan, memaketkan mimpi
pada pelayar bulan, menangkap tiap kilat
yang melesat untuk mengikat biar semangat
hidup mereka selalu kuat dalam sendu hembus
angin beludru

kadang mereka harus berjaga sampai sudut-sudut
pintu fajar membuka dan seluruh tenaga mereka
semakin habis tersedot kilau cahayanya

kau bisa melihat betapa haru biru rasa rindu
bercampur malu-malu tiap mereka berjumpa
matahari serta betapa mudah sekali mereka
menjadi layu sesudah perjumpaan itu

merekalah yang meninggalkan tembang di
siang terik ingatan, yang jika tak tertahankan
menggumpalkannya menjadi awan sewarna malam
lalu menjatuhkan nyanyian hujan yang bernaskah
kesegaran dan rasa sayang pada orang-orang pagi
yang seringkali tak peduli

Y, 240608

Monday, June 23, 2008

Sang Rajawali*


Ia cengkeram tebing batu terjal dengan tangan bengkoknya:

Dekat ke matahari di negeri nan sendiri,
Dilingkupi biru langit dunia, ia berdiri.

Kerenyut laut di bawahnya merayap pelan:
Ia menatap dari dinding gunungnya,
Dan seperti halilintar meluncurlah dia.


*terjemahan suka-suka The Eagle-nya Alfred Lord Tennyson (1919)

Tentang Orang-orang Pagi


yang bergerak pelan tanpa suara

yang masih gulita telah berkelana
menyebar ke sini ke sana ketika orang-
orang malam baru saja pulang dan asik
melepas rindunya pada peraduan

di dalam samar kau bisa melihat betapa
cekatannya mereka menggulung tirai kabut
mencopot bintang-bintang, menghapus bayang
bulan, menyemprotkan kesegaran ke ujung-ujung
dedaunan, menyiapkan karpet merah untuk kedatangan
sang penguasa terang

merekalah kaki-kaki matahari
yang bergerak ke segala arah sepanjang hari
memeras peluh, menjemur kesedihan biar menguap,
menerangi gelapnya sepi, mencairkan bekunya mimpi,
membakar kisah-kisah usang yang mengering layu dan
tak berarti lagi

merekalah yang duduk berjajar-jajar
di sepanjang garis pantai
mengatup redup bersama terbenamnya mentari
dan leleh tenggelam pada permukaan laut senja
yang tenang sambil menggulung layar terang
memberi jalan bagi orang-orang malam
yang mulai berdatangan


Y, 230608

Thursday, June 19, 2008

Seorang Gadis Dengan Pelangi Di Dalam Keranjangnya


ia tawarkan pipa


Aho
roh yang agung memberkatimu
elang di dadamu tertidur
sesudah genderang perang itu
berhenti berdebur

cakar kesedihan mencengkeram
hati keras jadi lebur leleh
yang lalu biar berlalu

ia mengambil ceritamu
mengenangnya dengan senyum
dan air mata


Aho
ia tawarkan pipa
seorang gadis dengan pelangi
di dalam keranjangnya


elang di dadamu terbangun
mengepak sayap dan terbang
bersama asap tarian


Mooin, Sang Anak Beruang

Pada zaman dahulu kala
hiduplah seorang anak lelaki bernama Sigo.
Ayahnya telah wafat ketika ia masih bayi.

Karena Sigo masih terlalu kecil untuk pergi berburu
dan menyediakan makanan bagi keluarganya di wigwam,
ibunya diharuskan untuk menikah lagi. Suami ibunya adalah
seorang lelaki pencemburu, pendengki
yang tidak suka pada anak tirinya karena ia pikir sang istri
lebih peduli pada anaknya dibanding dirinya.
Ia lalu berencana untuk menyingkirkan
anak laki-laki itu.

"Istri," katanya, "ini saatnya anak itu belajar sesuatu
tentang hutan. Aku akan membawanya berburu
bersamaku hari ini."

"Oh tidak!" jerit istrinya. "Sigo masih terlalu kecil!"

Tapi sang suami menyambar Sigo dan membawanya ke hutan.
Ibunya menangis karena tahu kedengkian di hati suaminya.

Ayah tiri itu tahu sebuah gua di tengah hutan,
yang menuju ke bukit berbatu. Ia membawa Sigo ke situ
dan menyuruhnya masuk ke dalam untuk mencari jejak kelinci.
Sigo menolak.

"Di dalam sana gelap. Aku takut."

"Takut!" cemooh ayah tirinya. "Kau akan jadi pemburu yang baik,"
dan dengan kasar ia mendorong Sigo ke dalam gua.
"Tetap di dalam sana sampai kuijinkan kau keluar."

Ayah tiri itu lalu mengambil galah dan menggunakannya
untuk mengungkit sebuah batu besar sehingga batu itu berguling
dan menutupi seluruh mulut gua.
Ia sudah tahu tak ada jalan keluar lain.
Anak itu ia masukkan untuk alasan yang baik
dan akan segera mati kelaparan.

Si ayah tiri meninggalkan tempat itu,
berencana akan memberitahu istrinya bahwa anaknya tidak patuh
lalu lari dan hilang, dan ia tak berhasil menemukannya.
Ia tidak akan pulang untuk sementara waktu,
seolah-olah sedang mencari anak itu.
Ia juga berencana akan menghabiskan waktunya
di pantai Blomidon dan mengumpulkan batu-batu ungu Glooscap
untuk dibawa pulang sebagai persembahan damai bagi istrinya.
Istrinya mungkin akan curiga, tapi tak ada yang bisa dibuktikan
dan tak seorangpun akan tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tak seorangpun? Sudah ada satu yang tahu.
Glooscap sang Pemimpin Agung sudah tahu apa yang terjadi
dan ia marah, sangat marah. Ia menancapkan tombak agungnya
ke batu merah Blomidon dan pecahannya meretak.
Tanah dan bebatuan berjatuhan ke bawah, ke bawah, terus ke bawah,
ke pantai, mengubur si ayah tiri yang jahat
dan menyebabkan ia langsung mati.

Lalu Glooscap memanggil pelayannya yang setia, sang Landak,
dan memberinya perintah untuk melakukan sesuatu.

Di dalam gua di dinding bukit, Sigo menangisi kesendirian
dan ketakutannya. Ia hanyalah seorang bocah berusia enam tahun
dan ia menginginkan ibunya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.

"Sigo! Lewat sini."

Ia melihat dua mata berkilau dan segera menuju ke situ dengan gemetar.
Mata itu menjadi semakin besar dan terang
dan akhirnya ia bisa melihat bahwa itu adalah mata seekor landak tua.

"Jangan menangis lagi, anakku" kata Landak.
"Aku di sini untuk menolongmu," dan Sigo tidak takut lagi.
Ia melihat Landak berjalan menuju mulut gua
dan berusaha mendorong batunya, tetapi batu itu terlalu berat.
Landak memasukkan bibirnya ke celah tipis di antara batu besar
dan dinding bukit lalu berteriak :

"Teman-teman Glooscap! Kemarilah kalian semua!"

Binatang-binatang dan burung-burung mendengar itu
maka berdatanganlah Serigala, Rakun, Karibu, Kura-kura,
Posum, Kelinci, dan Tupai, dan segala jenis burung
mulai dari Kalkun hingga Burung Kolibri.

"Seorang anak laki-laki ditinggal di sini agar mati,"
teriak Landak tua dari dalam gua.
"Aku tak cukup kuat untuk mendorong batunya.
Tolonglah kami atau kami akan mati."

Seluruh hewan menjawab bahwa mereka akan mencoba.
Mula-mula Rakun maju dan mencoba
melingkarkan lengannya ke batu, namun lengannya terlalu pendek.
Lalu Serigala maju dan menggigit serta menggaruk batu besar itu,
tapi malah bibirnya berdarah. Lalu Karibu maju ,
menjulurkan tanduknya ke celah dan mencoba mengumpil batunya
tetapi salah satu tanduknya menjadi patah.

Tak ada gunanya. Akhirnya mereka semua menyerah,
tak mampu menggerakkan batu besar tersebut.

"Kwah-ee," terdengar suara baru. "Apa yang terjadi?"

Mereka menoleh dan melihat Mooinskw,
yang berarti beruang perempuan, yang datang tanpa suara
dari dalam hutan. Beberapa hewan kecil ketakutan dan bersembunyi,
namun yang lain bercerita apa yang terjadi kepada Mooinskw.
Ia langsung memeluk batu besar di mulut gua itu
dan mengangkatnya dengan seluruh kekuatannya.
Diiringi gemuruh dan debum, batu besar itu bergeser.
Keluarlah Sigo dan Landak, dengan gembira.

Landak menguucapkan terima kasih kepada seluruh hewan
dan berkata, "Sekarang aku harus mencari seseorang
yang bisa mengurus dan membesarkan anak ini.
Makananku bukanlah yang terbaik untuk dia.
Mungkin ada di antara kita di sini
yang makanannya lebih sesuai untuk dia.
Anak ini lapar--siapa yang akan memberinya makan?"

Mereka serempak berpencar mencari makanan.
Burung Robin yang pertama kembali membawa makanan.
Ia segera meletakkan cacing-cacing di hadapan Sigo,
tetapi ia menggelengkan kepalanya.

Yang lain membawakan biji-bijian dan serangga,
tetapi Sigo, meskipun sangat lapar, tak sanggup menyentuh satupun
dari makanan itu. Akhirnya datanglah Mooinskw
dan memberikan sepotong kue datar yang terbuat dari buah blueberry.
Sigo segera mengambilnya dan makan dengan lahap.

"Oh, enak sekali ini," teriaknya. Dan Landak mengangguk dengan bijak.

"Mulai saat ini," katanya, "Mooinskw akan menjadi ibu angkat anak ini."

Maka Sigo tinggal dengan para beruang.
Selain Ibu beruang, ada juga dua anak beruang laki-laki
dan seorang anak beruang perempuan.
Mereka semua senang mempunyai saudara laki-laki baru
dan mereka segera mengajari Sigo segala permainan
dan rahasia hutan mereka. Sigo sangat bahagia dengan keluarga barunya.

Perlahan-lahan ia melupakan hidupnya yang lama.
Bahkan wajah ibunya mulai mengabur dalam kenangan
dan ia sering berjalan dengan kaki-tangan
persis seperti beruang, dia hampir berpikir bahwa dirinya
adalah seekor beruang.

Pada suatu musim semi ketika Sigo berusia sepuluh tahun,
para beruang pergi mencari ikan kecil.
Mooinskw berjalan menuju ke air, lalu duduk dan mulai menangkap
dan meletakkan ikan-ikan kecil di tepi sungai untuk anak-anaknya.
Semua sedang bergembira ketika tiba-tiba Mooinskw melompat
keluar dari air dan berteriak, "Ayo anak-anak, bergegas!
Ia mencium kedatangan manusia. "Lari selamatkan diri kalian!"

Ketika anak-anaknya berlari, ia berjaga di belakang mereka,
melindungi mereka, hingga akhirnya mereka aman sampai di rumah.

"Hewan apa itu Ibu?" tanya Sigo.

"Itu seorang pemburu," jawab ibu angkatnya,
"seorang manusia seperti dirimu sendiri, yang membunuh beruang
untuk dimakan." Dan ia memperingatkan mereka
untuk sangat berhati-hati mulai saat itu.
"Kamu harus selalu lari pandangan atau penciuman seorang pemburu."

Tak lama sesudah itu, keluarga beruang tersebut
pergi bersama keluarga beruang lain untuk memetik blueberry
untuk persediaan musim dingin.
Beruang terkecil segera merasa lelah dan kakaknya
segera punya pikiran usil.

"Tangkap aku di antara kerumunan," perintahnya kepada Sigo,
"seperti manusia ketika mereka berburu beruang.
Yang lain akan ketakutan dan lari.
Lalu kita bisa memetik semua berry itu untuk kita sendiri."

Maka Sigo mulai mengejar kedua saudara laki-lakinya
di antara beruang-beruang lain, berteriak kencang,
dan serempak seluruh beruang berlari terpencar ke segala arah.
Seluruhnya, kecuali ibu beruang yang mengenali suara anak angkatnya.

"Anak-anak Lox!" raungnya.
"Kenakalan apa yang kalian lakukan sekarang?"
Dan ia mengelilingi anak-anaknya
dan memukul mereka semua dengan keras, termasuk Sigo.

Demikianlah matahari melintasi langit setiap hari
dan siang menjadi semakin pendek.
Ibu beruang berhasil membawa keluarganya
untuk bernaung selama musim dingin
di sebuah pohon hollow yang luas.

Selama setengah musim dingin mereka hidup bahagia
dan aman dengan banyak persediaan kue blueberry
agar mereka tak lapar.

Lalu pada suatu hari yang sedih,
para pemburu menemukan pohon itu.

Karena melihat guratan cakar di batangnya,
para pemburu menduga ada beruang di dalamnya
dan mereka bersiap mengasapi para beruang
agar keluar dari sana.

Mooinskw sangat tahu apa yang akan terjadi dan
bahwa tidak semua akan dapat menyelamatkan diri.

"Aku harus keluar duluan," katanya,
"dan menarik perhatian mereka, sedangkan kalian berdua
lompat keluar dan lari. Lalu kamu, Sigo, tunjukkan dirimu
dan memohonlah agar adik perempuanmu dibebaskan.
Mungkin mereka akan membebaskannya demi kamu."

Maka demikianlah terjadi seperti yang dikatakan Ibu beruang
yang baik dan berani tersebut. Begitu ia keluar turun dari pohon,
para Indian menembaknya mati, tapi kedua anak lelaki beruang
berhasil menyelamatkan diri. Lalu Sigo berlari keluar, berseru:

"Aku manusia, sama seperti kamu.
Bebaskan beruang kecil perempuan ini, ia saudara angkatku."

Para Indian yang terpana meletakkan panah dan tombaknya,
dan waktu mereka mendengar cerita Sigo, mereka dengan senang hati
membebaskan beruang kecil perempuan, adik angkatnya
dan menyesal karena telah membunuh Mooinskw
yang telah begitu baik terhadap seorang anak Indian.

Sigo menangisi jenazah ibu angkatnya dan ia membuat
sebuah sumpah setia.

"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan disebut Mooin,
sang anak lelaki beruang. Dan ketika aku besar, dan menjadi
seorang pemburu, aku tak akan pernah membunuh ibu beruang
atau anak-anak beruang!"

Dan Mooin menepati janjinya.

Bersama saudara angkat perempuannya, Sigo kembali ke desanya,
ke ibu Indiannya yang menjadi sangat bahagia, yang merawat anak
beruang perempuan itu dengan penuh rasa sayang sampai ia cukup
umur dan mampu mengurus dirinya sendiri.

Dan sejak saat itu, jika orang Indian melihat asap keluar
dari dalam pohon hollow, mereka tahu bahwa ibu beruang
sedang di situ, memasak makanan untuk anak-anaknya,
dan para Indian tak akan mengganggu pohon itu.

Begitulah, kespeadooksit--akhir cerita.


kuterjemahkan dari : Mooin, the Bear's Child
(http://www.indians.org/welker/mooin.htm)


Tembikar


tubuh lembutmu masih basah

liat meliuk lentur dalam
putaran roda pelan dan sentuhan
telapak jari penuh kesabaran

pada deret lemari kayu

mereka mengering anggun
keramik yang kini tersenyum
sebagai cangkir, sebagai poci, sebagai piring,
sebagai guci, sebagai mug, sebagai vas,
sebagai pot, sebagai pigura, sebagai yang telah jadi

sebagai apakah kau akan dibentuk
dengan segala keindahan lekuk

aku segumpal lempung
di pojok ruang sebuah pondok
menunggu
giliranku

sambil menyesap nikmatnya
melihatmu menggeliat manja
dalam tangannya

Monday, June 16, 2008

Damn Spam


Break the spell of bad luck in love.

Bling-bling does not have to kaching-kaching.
Relax. Take a Deep Breath we have the answers you seek.
You silly moo! Get all your drug needs online.
Have you got a couple of off-hours a day?
Information - X837F064H22. Get all your pain eased
with cheap meds. Phentermime, Ambiem, Xamax, Valiun
at $1.75/pill & ViagraCia||is mro 8th.

From the desk of Dr. Couli Kone. NO STUDY needed!
Buy Degree/Bacheelor/MasteerMBA certificate ixbbaf 8t.
Your Email have Won!!!! Make your weapon esteemed.
Satisfy all her desires. I wonder why you're still shy.
Be the pleasure machine of legend.
Symbols of high class and status. Watch Out.
WHY buy original? we sell at 8-10% of
ORIGINAL PRICE: BvlgariRolexRado, Dior, IWC, Longines
& LV + Gucci Bags adv 5h.

Receipt number for your purchase with us.
Your pants' key from her bedroom!
Don't be a killjoy when the lights go down.
Dude, you should try it!

Damn Spam.

Kisah Magis Perempuan Kerbau


Burung Salju, sang tabib Caddo, memiliki
seorang anak lelaki rupawan. Ketika anaknya siap
mempunyai nama, Burung Salju memanggilnya
Pemberani karena keberaniannya sebagai seorang
pemburu. Banyak gadis di desa Caddo ingin mendapatkan
Pemberani untuk menjadi suami, tapi ia
jarang sekali mempedulikan mereka.

Suatu pagi ketika ia sedang mulai berburu, ia melihat seseorang
duduk di bawah pohon elm kecil. Sambil mendekat, ia terkejut bahwa
orang itu adalah seorang perempuan muda, dan ia langsung berbelok.

"Kemarilah," perempuan itu memanggilnya dengan suara merdu.
Pemberani mendekat dan melihat bahwa perempuan itu sangat muda
dan sangat cantik.

"Aku tahu engkau datang kemari," kata perempuan itu,
"dan aku datang untuk menemuimu."

"Engkau bukan dari suku kami," jawab Pemberani.
"Bagaimana engkau tahu aku menuju kemari?"

"Aku Perempuan Kerbau," katanya. "Aku telah melihatmu
beberapa kali sebelumnya, dari jauh.
Aku ingin engkau membawaku pulang
dan mengijinkanku tinggal bersamamu."

"Aku bisa membawamu pulang bersamaku," jawab Pemberani,
"tapi kamu harus bertanya pada orang tuaku apakah kamu
boleh tinggal bersama kami."

Mereka segera menuju pondok Pemberani, dan ketika tiba di sana
Perempuan Kerbau bertanya kepada orang tuanya apakah ia bisa
tinggal bersama mereka dan menjadi istri sang pemuda.
"Jika Pemberani menginginkanmu sebagai istrinya,
kami akan senang," jawab Burung Salju, sang tabib.
"Sudah waktunya ia mempunyai seseorang yang ia cintai."

Maka Pemberani dan Perempuan Kerbau menikah
dengan adat Caddo dan hidup bahagia bersama selama
beberapa bulan. Suatu hari Perempuan Kerbau bertanya,
"Akankah kau melakukan apapun
yang kuminta padamu, Pemberani?"

"Ya," jawabnya, "jika yang engkau minta bukan sesuatu yang tak mungkin."

"Aku ingin engkau pergi bersamaku mengunjungi orang-orangku."

Pemberani bersedia, dan keesokan harinya mereka berangkat menuju
tempat asal sang Perempuan. Setelah mereka berjalan cukup jauh dan tiba
di perbukitan tinggi, Perempuan itu melihat sekeliling, menatap suaminya dan
berkata "Engkau berjanji akan melakukan apapun yang kuminta."

"Ya,"jawab Pemberani.

"Baiklah," katanya, "tempat tinggalku berada dibalik bukit tinggi ini.
Aku akan memberitahumu setelah kita bertemu ibuku. Aku tahu
akan ada banyak yang datang untuk melihat siapakah kamu,
dan beberapa akan ada yang menantangmu dan membuatmu marah,
tapi jangan sampai engkau marah pada siapapun dari mereka.
Beberapa mungkin akan mencoba membunuhmu."

"Kenapa mereka begitu?" tanya Pemberani.

"Dengarkan apa yang akan kuceritakan padamu," katanya.
"Aku tahu engkau sebelum engkau tahu aku. Dengan magis
aku membuatmu datang kepadaku waktu itu. Kukatakan
bahwa beberapa akan mencoba membuatmu marah,
dan jika engkau menunjukkan kemarahan
pada siapapun dari mereka, yang lain akan bergabung untuk
berkelahi sampai mereka membunuhmu.
Mereka akan cemburu padamu. Alasannya adalah karena
aku menolak banyak dari mereka yang menginginkan aku.

"Tapi engkau adalah istriku sekarang," kata Pemberani.

"Aku telah memberitahumu apa yang harus dilakukan ketika tiba
di sana," lanjut Perempuan Kerbau. "Sekarang berbaringlah di tanah
dan bergulinglah dua kali."

Pemberani tersenyum pada istrinya, tapi ia melakukan apa
yang dimintanya. Ia berguling dua kali, dan ketika ia berdiri,
ia telah berubah menjadi seekor Kerbau.

Selama beberapa saat Perempuan Kerbau menatapnya,
melihat mata suaminya yang terpana. Lalu ia berguling dua kali,
dan ia juga menjadi seekor Kerbau. Tanpa berkata,
ia membimbing suaminya menuju ke puncak bukit.
Di lembah menuju ke barat, Pemberani
melihat beratus-ratus Kerbau.

"Mereka orang-orangku," kata Perempuan Kerbau.
"Ini tempat tinggalku."

Ketika anggota kawanan yang terdekat melihat Pemberani
dan Perempuan Kerbau mendekat, mereka berkumpul di satu
tempat, seolah menunggu kedatangan mereka berdua.
Perempuan Kerbau memimpin jalan, Pemberani mengikutinya sampai
mereka tiba pada seekor Kerbau tua, dan Pemberani tahu bahwa dia adalah
ibu dari istrinya yang cantik.

Selama dua bulan mereka tinggal bersama kawanan tersebut.
Setiap saat, empat atau lima Kerbau muda datang mengganggu Pemberani,
mencoba membangkitkan kemarahannya, tapi ia berpura-pura tidak
melihat mereka. Suatu malam, Perempuan Kerbau berkata bahwa ia siap
kembali ke pondok Pemberani, dan pergilah mereka melewati perbukitan.

Ketika tiba di tempat mereka berubah menjadi Kerbau, mereka berguling
dua kali dan menjadi lelaki dan perempuan lagi. "Berjanjilah bahwa engkau
tak akan memberitahu siapapun tentang perubahan magis ini,"
kata Perempuan Kerbau. "Jika mereka tahu tentang ini, sesuatu yang buruk
akan terjadi pada kita."

Mereka tinggal di pondok Pemberani selama dua belas bulan, dan lagi,
Perempuan Kerbau memintanya untuk mengunjungi orang-orangnya.
Belum lama mereka berada di lembah itu ketika ia memberitahu suaminya
bahwa pemuda-pemuda yang cemburu padanya sedang merencanakan
lomba lari. "Mereka akan menantangmu untuk berlomba dan jika engkau
tak bisa mengalahkan mereka, engkau akan dibunuh," katanya.

Malam itu Pemberani tak dapat tidur. Ia keluar untuk berjalan-jalan.
Malam itu sangat gelap tanpa bulan dan bintang, tapi ia bisa merasakan
kehadiran roh Angin.

"Engkau muda dan kuat" roh Angin berbisi padanya,
"tapi engkau takkan dapat mengalahkan para Kerbau tanpa bantuanku.
Jika engkau kalah, mereka akan membunuhmu. Jika engkau menang,
mereka takkan menantangmu lagi."

"Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan hidupku dan
mempertahankan istriku yang cantik?" tanya Pemberani.

Sang roh Angin memberinya dua benda. "Salah satu dari ini adalah
ramuan magis," kata roh Angin. "Satunya adalah lumpur kering
dari kubangan obat. Jika para Kerbau mendekatimu, pertama lemparkan
ramuan magis itu di belakangmu. Jika mereka terlalu dekat lagi,
lemparkan lumpur keringnya."

Keesokan harinya adalah waktu lomba. Saat matahari terbit
para Kerbau muda berkumpul di tempat dimulainya lomba.
Ketika Pemberani bergabung bersama mereka, mereka mulai
mengejeknya, mengatakan bahwa ia adalah kerbau manusia dan
tak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka. Pemberani
mengabaikan cemooh mereka, dan dengan tenang bersiap di
titik mulai.

Seekor Kerbau tua memulai perlombaan dengan lenguhan keras,
dan mula-mula Pemberani memimpin, berlari sangat cepat.
Namun segera yang lain menyusulnya, dan ketika ia mendengar
dengus keras mereka di belakangnya, ia melemparkan ramuan magis
ke belakangnya. Saat itu ia merasa sangat lelah dan
berpikir bahwa ia takkan lagi bisa berlari. Ia melihat ke belakang dan melihat
seekor Kerbau dengan kepala tertunduk datan dengan sangat cepat dan
jaraknya dengan Pemberani menjadi sangat dekat.

Ketika Kerbau itu hampir berpapasan dengannya, Pemberani
melemparkan lumpur kering dari kubangan obat.

Segera ia memimpin di depan, namun ia tahu bahwa ia telah menggunakan
kekuatan yang diberikan padanya oleh roh Angin. Ketika ia mendekati
titik akhir perlombaan, ia mendengar derap kaki yang mendekat ke arahnya.
Pada detik terakhir, ia merasakan angin yang kuat di wajahnya yang lewat
dan menimbulkan debu sehingga Kerbau dibelakangnya tak bisa melewatinya.

Dengan bantuan roh Angin, Pemberani melewati titik akhir dan memenangkan
lomba itu. Sejak itu, tak seekor Kerbaupun pernah menantangnya lagi,
dan ia serta Perempuan Kerbau hidup damai bersama kawanan tersebut hingga
mereka siap kembali ke orang-orang Caddo.

Tak lama setelah mereka kembali ke pondok Pemberani,
Perempuan Kerbau melahirkan seorang anak lelaki tampan.
Mereka menamainya Pemuda Kerbau, dan segera ia tumbuh
dan bermain bersama teman-teman di desanya.

Suatu hari ketika Perempuan Kerbau sedang memasak makan malam,
anak lelakinya menyelinap keluar dan bermain bersama teman-temannya.
Mereka memainkan bermacam-macam permainan dan akhirnya memutuskan
bermain sebagai Kerbau. Beberapa di antara mereka berbaring di tanah dan
berguling seperti Kerbau, dan Pemuda Kerbau juga melakukannya.

Ketika ia berguling dua kali, ia berubah menjadi seekor anak Kerbau.
Melihat ini semua anak ketakutan dan berlari pulang ke pondok masing-masing.

Tepat pada saat itu ibunya keluar mencarinya dan ketika ia melihat
anak-anak kecil lari ketakutan, ia tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi.
Ia segera melihat apa yang terjadi dan menemukan anak lelakinya berubah
menjadi seekor anak Kerbau. Ia segera merengkuhnya, berlari menuruni bukit,
dan setelah jauh dari desa ia mengubah dirinya menjadi seekor Kerbau dan bersama
Pemuda Kerbau, mereka pergi menuju ke barat.

Petang harinya, ketika Pemberani pulang berburu ia tak dapat menemukan
istri dan anaknya di pondok. Ia pergi mencari mereka, dan ada yang memberi
tahunya tentang permainan anak-anak serta keajaiban yang mengubah anaknya
menjadi seekor anak Kerbau.

Mula-mula Pemberani tak percaya apa yang mereka katakan,
tapi setelah ia mengikuti jejak istrinya ke bawah bukit dan menemukan
tempat di mana ia berguling, ia tahu cerita itu benar.

Selama berbulan-bulan Pemberani mencari Perempuan Kerbau
dan Pemuda Kerbau, tetapi ia tak pernah menemukan mereka.

...


Kualihbahasakan dari: Buffalo Woman, A Story of Magic (http://www.indians.org/welker/buffalow.htm)