Tuesday, May 12, 2015
Di bibirmu
Di bibirmu kulihat namaku kau ukir menjadi lagu
Dan matamu adalah pintu waktu
Yang mengundangku masuk tanpa perlu kuketuk.
Di bibirmu bolehkah kuletakkan segala sepiku?
Sebelum jiwaku berkelana ke dalam matamu
mencari jalan ke tempat asal nyanyianmu.
Wednesday, June 4, 2014
tubuhnya menjelang malam
tubuhnya menjelang malam
kala gemerlap semesta berkilauan
dari kepala sampai tapak perjalanan
"kukembalikan sayapmu yang dulu kami curi"
suara kepak peri berdengung di helai-helai rambut mimpi
di kegelapan ini ada benih yang tertanam dan tumbuh perlahan
seperti buah kebahagiaan yang terpupuk dari air mata kesabaran
ia memejamkan kenangan
merasa punggungnya gemetaran
dan kakinya terangkat ringan
ia terbang
merayakan keheningan
menyisakan remah-remah bintang pesan
berguguran sampai pagi datang
karena
dari balik tirai matahari
kuhirup aroma tropismu yang jauh
hangat dan kurindui
diputaran bumi yang kesekian kali
tak pernah gagal kau buka pintu ingatan
tentang segala kita punya yang menyenangkan
sampai musim semi ini pergi
dan abu-abu menyelimutiku lagi
dan pintu ingatanku tertutup jarak pelangi kau tetap akan kembali
karena padamulah kutitipkan kunci
Tuesday, May 6, 2014
ah,
di ujung kibasan rambut langit kudengar icarus seperti menjerit
angkasa rasa yang perkasa melelehkan sayap-sayapnya
gema kembaranya berguguran menyeberangi musim-musim mimpi
"hatiku bersemi di putik bunga-bunga kuning di tepi kali",
katamu sembari melipat kenangan, menjadikannya perahu kertas,
membiarkannya berlayar di antara keping es tipis sisa dingin air mata malam tadi
dari atas, matahari mengedipkan sinarnya dari sela-sela awan
yang berkejaran mengeja waktu dalam warna abu-abu
sesuatu mengetuk dadaku tepat ketika sehelai melodi
jatuh ke pangkuanku
ah, masa lalu
Saturday, March 15, 2014
jantung malam
pada jaman elektrik ini
aku terbiasa tenggelam
di lautan bayang-bayang
tiang kaki matahari yang menelan jarak dulu dan nanti
mungkin terlalu sering aku tersesat
di lalu lintas padat
gelombang warna
dari matamu yang rahasia
memabukkan makna
karena setiap debar gumam
di jantung malam
aku terjaga oleh semu geletar
menjalar dari paras tidurmu yang berpendar
waktu itu
waktu itu ketika matahari pergi
kau mengajakku membuat janji
yang kita tiupkan pada lilin-lilin musim semi
dan membisikkannya pada batu-batu peri
aku merindukan keasinganmu
aroma dongengmu yang membiusku
pada lantai langit biru
negeri yang namanya berlarian di bibirku
waktu itu ketika kuda-kuda laju berderap
jiwaku jatuh lalu merayap
ke dasar tanpa terap
dan kau juga mengendap
dari lorong pelangi
menculik gigil-gigil mimpi
perempuan pagi dan lelaki malam tadi
lalu tiba perempuan pagi
menyeret pergi
lelaki malam tadi
lelaki malam tadi
aku tahu akan melihatmu lagi
esok atau nanti
kulipat baik-baik ceritaku
menyimpannya dalam laci bisu
kamar kenanganku
Monday, March 4, 2013
aku kembali pada puisi
karena matahari menghadiahiku dirinya
sepanjang hari ini
aku kembali pada puisi
meski kata-kataku terjerat halaman berduri
dan gema dadaku menjelma genta
merayapi dinding malam yang rahasia
aku baik-baik saja
meski air mataku beralih rupa
lalu lari sembunyi
di tetes embun musim semi
Tuesday, May 1, 2012
di
di ranting malam kau bertengger.
hatiku daun kering jatuh kau geser.
melayang. tanpa keresak debam,
lengang.
baiklah ini rahasia.
kita simpan dalam bahasa angin,
yang asing.
Monday, March 5, 2012
untuk CP
Sunday, March 4, 2012
jarak makna
aku berhenti berkata
ketika malam mengedipkan matanya
kembang-kembang plastik itu buatku cemburu
pada hal-hal yang tak perlu
sampai ingin kucabut dadaku
dan kusorongkan ke telingamu
agar kau dengar degupku bergetar
meluruhkan gambarmu yang kian samar
aku mulai bernyanyi
ketika pagi menyiksamu sendiri
karena kembang plastikmu meleleh pergi
diusir matahari
Thursday, February 2, 2012
1:30 AM
ah, daun-daun jatuh di rambutmu
kau yang tak sempurna dan berbeda
membuatku cemburu sekaligus jatuh cinta
seperti menyalakan air di gelap hatiku yang api
kau membuatku berlari dari negeri hujan dan menghadiahi
puncak-puncak gunung dengan matahari
tubuhku penuh luka bakar air mata
dari panasnya masa laluku yang sempurna
dan kakiku melepuh indah oleh jalan mulus berduri
yang sudah kulalui
kadang-kadang aku menangis di bawah terik bulan
tangisanku telanjang seperti cahaya keperakan di atas lautan malam
menjadi gema sepi
setiap kutatap pesonamu yang tak sempurna
latar belakang panggungku berganti lukisan lorong-lorong panjang
yang mengeluarkan suara petunjuk arah dunia
begitu hidup, begitu fana
aku menjadi pencerita
yang tertawan tokoh utama
dan berusaha keras untuk tak menjadi dia
ketika kupadamkan lampu
daun-daun di rambutmu menyala
entah menerangiku
atau sedang tertawa
kucium gambarmu
lalu menutup buku
menghaturkan puja
tanpa kata
Tuesday, January 31, 2012
karena
kau akan merindukanku
seperti demam yang mengutukmu
dari ujung rambut sampai kaki
kau akan menyebut namaku
dalam gigil hari-hari kosongmu
segala yang terbaik telah saling kita berikan
segala yang terbaik telah saling kita rasakan
jika tak ada lagi yang bisa kita perjuangkan
mengapa kau pantulkan aku di ruang hampa harapan?
karena aku mungkin memilih tak pulang ke jalan
yang sudah kita untai bermil-mil jauhnya
karena aku lelah menebak arah
dan tersesat dalam sedihnya pasrah
Sunday, January 29, 2012
dulu
kami terbiasa menghembus gelembung-gelembung aksara
membiarkannya beterbangan menjadi kata
dan kami berlarian di antaranya
gembira, tanpa prasangka
kaki-kaki kami lebih kuat semenjak sayap-sayap kami tanggalkan
dari bahu-bahu kecil kami pada hari kedatangan
yang telah digariskan
dan kami lalui dengan tangisan
ketika bola raksasa yang kami pijak memasuki putarannya
yang kesekian, kaki kami telah mencatat ribuan kilo kisah
yang sebagian diterpa angin lupa
dan bertengger di dahan-dahan masa lalu
kadang-kadang kami kembali dan mendapati gelembung-gelembung
aksara kami masih beterbangan di sekitar pohon-pohon cerita
kadang-kadang kami dapati setiap kata memiliki
sayap yang persis seperti milik kami yang kami tanggalkan
dulu sekali dan terus berterbangan di dalam imajinasi kami
Wednesday, January 25, 2012
25 Januari
Tuesday, January 17, 2012
grafitti angin
tembok-tembok memalingkan muka
ketika mereka mencoret-coret semuanya
murka dan duka
suka dan doa
absurditas fana
spiritualitas maya
karya mereka menjadi warna-warni jalanan
jalanan kehidupan
karena mereka menatap kendaraan-kendaraan
berseliweran
mengangkut harapan
dan mimpi-mimpi terbuang
sambil mencatat remah-remah sepinya
berguguran
lalu mencoretkan semuanya
ketika tembok-tembok memalingkan muka
Friday, January 13, 2012
kadang-kadang aku mendengar hujan di dalam kepalaku
kadang-kadang aku mendengar hujan di dalam kepalaku
seperti air segar yang mengguyur harapan-harapan layu
menyembuhkannya dari dahaga
membuatnya kembali berbunga
kadang-kadang aku mendengar hujan di dalam kepalaku
seperti tangis rahasia yang kusembunyikan di hutan-hutan
pikiran, saat segala yang nyata terasa menyesakkan
dan aku harus terus tegak berjalan
kadang-kadang aku mendengar hujan di dalam kepalaku
menyanyikan lagu-lagu permainan masa kecilku
mengingatkan hari-hari yang sudah berlalu
kadang-kadang aku mendengar hujan di dalam kepalaku
menghapus segala amarahku tentangmu
Friday, January 6, 2012
saat kau mendengkur
Wednesday, January 4, 2012
CR
ketika warna langit memerah
bukan tentang kesedihan yang kalah
tapi kebahagiaan yang tersembah
dari harapan pagi yang rekah
dengan sempurna
seperti lagu tentang cinta
dinyanyikan burung-burung di angkasa
di pentas alam
setelah gelisah bermalam-malam
desir-desir terpendam
semua berhambur
menjadi syukur
ke udara negeri subur
ke pantai-pantai jaya
menghembus angin doa
sukacita
ke segala sudut dunia
agar diterima
sang maha
Wednesday, December 28, 2011
kucing
kucing melompat dari mosaik mitologi
eongannya api
ekornya ular berkaki
"bukan, bukan chimera
chimera berkepala singa"
kucing itu mungkin nemean
singa legenda yang jatuh dari bulan
atau jangan-jangan malah ibunya
"bukan, bukan echidna
echidna terbunuh raksasa bermata seratus"
kucing itu mencakar lalu menggigitku
mengubahku setengah singa setengah perempuan
menjadi sphinx membatu menunggu kau pecahkan teka-tekiku
Agustus 07
Agustus 07
Subscribe to:
Posts (Atom)


