Saturday, March 15, 2014

jantung malam



pada jaman elektrik ini
aku terbiasa tenggelam
di lautan bayang-bayang
tiang kaki matahari yang menelan jarak dulu dan nanti


mungkin terlalu sering aku tersesat
di lalu lintas padat 
gelombang warna 
dari matamu yang rahasia
memabukkan makna

karena setiap debar gumam
di jantung malam
aku terjaga oleh semu geletar
menjalar dari paras tidurmu yang berpendar

waktu itu



waktu itu ketika matahari pergi
kau mengajakku membuat janji
yang kita tiupkan pada lilin-lilin musim semi
dan membisikkannya pada batu-batu peri

aku merindukan keasinganmu
aroma dongengmu yang membiusku
pada lantai langit biru
negeri yang namanya berlarian di bibirku

waktu itu ketika kuda-kuda  laju berderap
jiwaku jatuh lalu merayap
ke dasar tanpa terap
dan kau juga mengendap

dari lorong pelangi
menculik gigil-gigil mimpi




perempuan pagi dan lelaki malam tadi

 
lalu tiba perempuan pagi
menyeret pergi
lelaki malam tadi

aku tahu akan melihatmu lagi
esok atau nanti


kulipat baik-baik ceritaku
menyimpannya dalam laci bisu
kamar kenanganku