Monday, June 30, 2008

Eksposisi Debar


Di bawah hati kecemasan berjalan kesini kesana.

"Bukan apa-apa", degup langkahnya menggema.
Cuma bekas luka yang nyeri atas kenangannya.

Ia sudah bersabda,
dan kau sembuh karenanya.

Wednesday, June 25, 2008

Padahal


setengah mati

ia mengunyah huruf
mencerna makna

dan lidahnya mendecak rasa

lalu bersendawa
--cuma kata--
bunyinya

Tuesday, June 24, 2008

Lalu Orang-orang Malam


kadang dengan wajah pucat merayap
memberi warna pada gelap
merengkuh sinar orang-orang pagi
yang mulai jatuh lelap

mula-mula mereka menyalakan
satu kedip bintang harapan, meletakkannya
secara serampangan, lalu menggandakan
kerlip-kerlip bertebaran mengisi kelamnya
samudera malam

di bawah pancaran temaram
mereka bekerja menyisihkan kenangan
mengolah kenyataan, memaketkan mimpi
pada pelayar bulan, menangkap tiap kilat
yang melesat untuk mengikat biar semangat
hidup mereka selalu kuat dalam sendu hembus
angin beludru

kadang mereka harus berjaga sampai sudut-sudut
pintu fajar membuka dan seluruh tenaga mereka
semakin habis tersedot kilau cahayanya

kau bisa melihat betapa haru biru rasa rindu
bercampur malu-malu tiap mereka berjumpa
matahari serta betapa mudah sekali mereka
menjadi layu sesudah perjumpaan itu

merekalah yang meninggalkan tembang di
siang terik ingatan, yang jika tak tertahankan
menggumpalkannya menjadi awan sewarna malam
lalu menjatuhkan nyanyian hujan yang bernaskah
kesegaran dan rasa sayang pada orang-orang pagi
yang seringkali tak peduli

Y, 240608

Monday, June 23, 2008

Sang Rajawali*


Ia cengkeram tebing batu terjal dengan tangan bengkoknya:

Dekat ke matahari di negeri nan sendiri,
Dilingkupi biru langit dunia, ia berdiri.

Kerenyut laut di bawahnya merayap pelan:
Ia menatap dari dinding gunungnya,
Dan seperti halilintar meluncurlah dia.


*terjemahan suka-suka The Eagle-nya Alfred Lord Tennyson (1919)

Tentang Orang-orang Pagi


yang bergerak pelan tanpa suara

yang masih gulita telah berkelana
menyebar ke sini ke sana ketika orang-
orang malam baru saja pulang dan asik
melepas rindunya pada peraduan

di dalam samar kau bisa melihat betapa
cekatannya mereka menggulung tirai kabut
mencopot bintang-bintang, menghapus bayang
bulan, menyemprotkan kesegaran ke ujung-ujung
dedaunan, menyiapkan karpet merah untuk kedatangan
sang penguasa terang

merekalah kaki-kaki matahari
yang bergerak ke segala arah sepanjang hari
memeras peluh, menjemur kesedihan biar menguap,
menerangi gelapnya sepi, mencairkan bekunya mimpi,
membakar kisah-kisah usang yang mengering layu dan
tak berarti lagi

merekalah yang duduk berjajar-jajar
di sepanjang garis pantai
mengatup redup bersama terbenamnya mentari
dan leleh tenggelam pada permukaan laut senja
yang tenang sambil menggulung layar terang
memberi jalan bagi orang-orang malam
yang mulai berdatangan


Y, 230608

Thursday, June 19, 2008

Seorang Gadis Dengan Pelangi Di Dalam Keranjangnya


ia tawarkan pipa


Aho
roh yang agung memberkatimu
elang di dadamu tertidur
sesudah genderang perang itu
berhenti berdebur

cakar kesedihan mencengkeram
hati keras jadi lebur leleh
yang lalu biar berlalu

ia mengambil ceritamu
mengenangnya dengan senyum
dan air mata


Aho
ia tawarkan pipa
seorang gadis dengan pelangi
di dalam keranjangnya


elang di dadamu terbangun
mengepak sayap dan terbang
bersama asap tarian


Mooin, Sang Anak Beruang

Pada zaman dahulu kala
hiduplah seorang anak lelaki bernama Sigo.
Ayahnya telah wafat ketika ia masih bayi.

Karena Sigo masih terlalu kecil untuk pergi berburu
dan menyediakan makanan bagi keluarganya di wigwam,
ibunya diharuskan untuk menikah lagi. Suami ibunya adalah
seorang lelaki pencemburu, pendengki
yang tidak suka pada anak tirinya karena ia pikir sang istri
lebih peduli pada anaknya dibanding dirinya.
Ia lalu berencana untuk menyingkirkan
anak laki-laki itu.

"Istri," katanya, "ini saatnya anak itu belajar sesuatu
tentang hutan. Aku akan membawanya berburu
bersamaku hari ini."

"Oh tidak!" jerit istrinya. "Sigo masih terlalu kecil!"

Tapi sang suami menyambar Sigo dan membawanya ke hutan.
Ibunya menangis karena tahu kedengkian di hati suaminya.

Ayah tiri itu tahu sebuah gua di tengah hutan,
yang menuju ke bukit berbatu. Ia membawa Sigo ke situ
dan menyuruhnya masuk ke dalam untuk mencari jejak kelinci.
Sigo menolak.

"Di dalam sana gelap. Aku takut."

"Takut!" cemooh ayah tirinya. "Kau akan jadi pemburu yang baik,"
dan dengan kasar ia mendorong Sigo ke dalam gua.
"Tetap di dalam sana sampai kuijinkan kau keluar."

Ayah tiri itu lalu mengambil galah dan menggunakannya
untuk mengungkit sebuah batu besar sehingga batu itu berguling
dan menutupi seluruh mulut gua.
Ia sudah tahu tak ada jalan keluar lain.
Anak itu ia masukkan untuk alasan yang baik
dan akan segera mati kelaparan.

Si ayah tiri meninggalkan tempat itu,
berencana akan memberitahu istrinya bahwa anaknya tidak patuh
lalu lari dan hilang, dan ia tak berhasil menemukannya.
Ia tidak akan pulang untuk sementara waktu,
seolah-olah sedang mencari anak itu.
Ia juga berencana akan menghabiskan waktunya
di pantai Blomidon dan mengumpulkan batu-batu ungu Glooscap
untuk dibawa pulang sebagai persembahan damai bagi istrinya.
Istrinya mungkin akan curiga, tapi tak ada yang bisa dibuktikan
dan tak seorangpun akan tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tak seorangpun? Sudah ada satu yang tahu.
Glooscap sang Pemimpin Agung sudah tahu apa yang terjadi
dan ia marah, sangat marah. Ia menancapkan tombak agungnya
ke batu merah Blomidon dan pecahannya meretak.
Tanah dan bebatuan berjatuhan ke bawah, ke bawah, terus ke bawah,
ke pantai, mengubur si ayah tiri yang jahat
dan menyebabkan ia langsung mati.

Lalu Glooscap memanggil pelayannya yang setia, sang Landak,
dan memberinya perintah untuk melakukan sesuatu.

Di dalam gua di dinding bukit, Sigo menangisi kesendirian
dan ketakutannya. Ia hanyalah seorang bocah berusia enam tahun
dan ia menginginkan ibunya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.

"Sigo! Lewat sini."

Ia melihat dua mata berkilau dan segera menuju ke situ dengan gemetar.
Mata itu menjadi semakin besar dan terang
dan akhirnya ia bisa melihat bahwa itu adalah mata seekor landak tua.

"Jangan menangis lagi, anakku" kata Landak.
"Aku di sini untuk menolongmu," dan Sigo tidak takut lagi.
Ia melihat Landak berjalan menuju mulut gua
dan berusaha mendorong batunya, tetapi batu itu terlalu berat.
Landak memasukkan bibirnya ke celah tipis di antara batu besar
dan dinding bukit lalu berteriak :

"Teman-teman Glooscap! Kemarilah kalian semua!"

Binatang-binatang dan burung-burung mendengar itu
maka berdatanganlah Serigala, Rakun, Karibu, Kura-kura,
Posum, Kelinci, dan Tupai, dan segala jenis burung
mulai dari Kalkun hingga Burung Kolibri.

"Seorang anak laki-laki ditinggal di sini agar mati,"
teriak Landak tua dari dalam gua.
"Aku tak cukup kuat untuk mendorong batunya.
Tolonglah kami atau kami akan mati."

Seluruh hewan menjawab bahwa mereka akan mencoba.
Mula-mula Rakun maju dan mencoba
melingkarkan lengannya ke batu, namun lengannya terlalu pendek.
Lalu Serigala maju dan menggigit serta menggaruk batu besar itu,
tapi malah bibirnya berdarah. Lalu Karibu maju ,
menjulurkan tanduknya ke celah dan mencoba mengumpil batunya
tetapi salah satu tanduknya menjadi patah.

Tak ada gunanya. Akhirnya mereka semua menyerah,
tak mampu menggerakkan batu besar tersebut.

"Kwah-ee," terdengar suara baru. "Apa yang terjadi?"

Mereka menoleh dan melihat Mooinskw,
yang berarti beruang perempuan, yang datang tanpa suara
dari dalam hutan. Beberapa hewan kecil ketakutan dan bersembunyi,
namun yang lain bercerita apa yang terjadi kepada Mooinskw.
Ia langsung memeluk batu besar di mulut gua itu
dan mengangkatnya dengan seluruh kekuatannya.
Diiringi gemuruh dan debum, batu besar itu bergeser.
Keluarlah Sigo dan Landak, dengan gembira.

Landak menguucapkan terima kasih kepada seluruh hewan
dan berkata, "Sekarang aku harus mencari seseorang
yang bisa mengurus dan membesarkan anak ini.
Makananku bukanlah yang terbaik untuk dia.
Mungkin ada di antara kita di sini
yang makanannya lebih sesuai untuk dia.
Anak ini lapar--siapa yang akan memberinya makan?"

Mereka serempak berpencar mencari makanan.
Burung Robin yang pertama kembali membawa makanan.
Ia segera meletakkan cacing-cacing di hadapan Sigo,
tetapi ia menggelengkan kepalanya.

Yang lain membawakan biji-bijian dan serangga,
tetapi Sigo, meskipun sangat lapar, tak sanggup menyentuh satupun
dari makanan itu. Akhirnya datanglah Mooinskw
dan memberikan sepotong kue datar yang terbuat dari buah blueberry.
Sigo segera mengambilnya dan makan dengan lahap.

"Oh, enak sekali ini," teriaknya. Dan Landak mengangguk dengan bijak.

"Mulai saat ini," katanya, "Mooinskw akan menjadi ibu angkat anak ini."

Maka Sigo tinggal dengan para beruang.
Selain Ibu beruang, ada juga dua anak beruang laki-laki
dan seorang anak beruang perempuan.
Mereka semua senang mempunyai saudara laki-laki baru
dan mereka segera mengajari Sigo segala permainan
dan rahasia hutan mereka. Sigo sangat bahagia dengan keluarga barunya.

Perlahan-lahan ia melupakan hidupnya yang lama.
Bahkan wajah ibunya mulai mengabur dalam kenangan
dan ia sering berjalan dengan kaki-tangan
persis seperti beruang, dia hampir berpikir bahwa dirinya
adalah seekor beruang.

Pada suatu musim semi ketika Sigo berusia sepuluh tahun,
para beruang pergi mencari ikan kecil.
Mooinskw berjalan menuju ke air, lalu duduk dan mulai menangkap
dan meletakkan ikan-ikan kecil di tepi sungai untuk anak-anaknya.
Semua sedang bergembira ketika tiba-tiba Mooinskw melompat
keluar dari air dan berteriak, "Ayo anak-anak, bergegas!
Ia mencium kedatangan manusia. "Lari selamatkan diri kalian!"

Ketika anak-anaknya berlari, ia berjaga di belakang mereka,
melindungi mereka, hingga akhirnya mereka aman sampai di rumah.

"Hewan apa itu Ibu?" tanya Sigo.

"Itu seorang pemburu," jawab ibu angkatnya,
"seorang manusia seperti dirimu sendiri, yang membunuh beruang
untuk dimakan." Dan ia memperingatkan mereka
untuk sangat berhati-hati mulai saat itu.
"Kamu harus selalu lari pandangan atau penciuman seorang pemburu."

Tak lama sesudah itu, keluarga beruang tersebut
pergi bersama keluarga beruang lain untuk memetik blueberry
untuk persediaan musim dingin.
Beruang terkecil segera merasa lelah dan kakaknya
segera punya pikiran usil.

"Tangkap aku di antara kerumunan," perintahnya kepada Sigo,
"seperti manusia ketika mereka berburu beruang.
Yang lain akan ketakutan dan lari.
Lalu kita bisa memetik semua berry itu untuk kita sendiri."

Maka Sigo mulai mengejar kedua saudara laki-lakinya
di antara beruang-beruang lain, berteriak kencang,
dan serempak seluruh beruang berlari terpencar ke segala arah.
Seluruhnya, kecuali ibu beruang yang mengenali suara anak angkatnya.

"Anak-anak Lox!" raungnya.
"Kenakalan apa yang kalian lakukan sekarang?"
Dan ia mengelilingi anak-anaknya
dan memukul mereka semua dengan keras, termasuk Sigo.

Demikianlah matahari melintasi langit setiap hari
dan siang menjadi semakin pendek.
Ibu beruang berhasil membawa keluarganya
untuk bernaung selama musim dingin
di sebuah pohon hollow yang luas.

Selama setengah musim dingin mereka hidup bahagia
dan aman dengan banyak persediaan kue blueberry
agar mereka tak lapar.

Lalu pada suatu hari yang sedih,
para pemburu menemukan pohon itu.

Karena melihat guratan cakar di batangnya,
para pemburu menduga ada beruang di dalamnya
dan mereka bersiap mengasapi para beruang
agar keluar dari sana.

Mooinskw sangat tahu apa yang akan terjadi dan
bahwa tidak semua akan dapat menyelamatkan diri.

"Aku harus keluar duluan," katanya,
"dan menarik perhatian mereka, sedangkan kalian berdua
lompat keluar dan lari. Lalu kamu, Sigo, tunjukkan dirimu
dan memohonlah agar adik perempuanmu dibebaskan.
Mungkin mereka akan membebaskannya demi kamu."

Maka demikianlah terjadi seperti yang dikatakan Ibu beruang
yang baik dan berani tersebut. Begitu ia keluar turun dari pohon,
para Indian menembaknya mati, tapi kedua anak lelaki beruang
berhasil menyelamatkan diri. Lalu Sigo berlari keluar, berseru:

"Aku manusia, sama seperti kamu.
Bebaskan beruang kecil perempuan ini, ia saudara angkatku."

Para Indian yang terpana meletakkan panah dan tombaknya,
dan waktu mereka mendengar cerita Sigo, mereka dengan senang hati
membebaskan beruang kecil perempuan, adik angkatnya
dan menyesal karena telah membunuh Mooinskw
yang telah begitu baik terhadap seorang anak Indian.

Sigo menangisi jenazah ibu angkatnya dan ia membuat
sebuah sumpah setia.

"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan disebut Mooin,
sang anak lelaki beruang. Dan ketika aku besar, dan menjadi
seorang pemburu, aku tak akan pernah membunuh ibu beruang
atau anak-anak beruang!"

Dan Mooin menepati janjinya.

Bersama saudara angkat perempuannya, Sigo kembali ke desanya,
ke ibu Indiannya yang menjadi sangat bahagia, yang merawat anak
beruang perempuan itu dengan penuh rasa sayang sampai ia cukup
umur dan mampu mengurus dirinya sendiri.

Dan sejak saat itu, jika orang Indian melihat asap keluar
dari dalam pohon hollow, mereka tahu bahwa ibu beruang
sedang di situ, memasak makanan untuk anak-anaknya,
dan para Indian tak akan mengganggu pohon itu.

Begitulah, kespeadooksit--akhir cerita.


kuterjemahkan dari : Mooin, the Bear's Child
(http://www.indians.org/welker/mooin.htm)


Tembikar


tubuh lembutmu masih basah

liat meliuk lentur dalam
putaran roda pelan dan sentuhan
telapak jari penuh kesabaran

pada deret lemari kayu

mereka mengering anggun
keramik yang kini tersenyum
sebagai cangkir, sebagai poci, sebagai piring,
sebagai guci, sebagai mug, sebagai vas,
sebagai pot, sebagai pigura, sebagai yang telah jadi

sebagai apakah kau akan dibentuk
dengan segala keindahan lekuk

aku segumpal lempung
di pojok ruang sebuah pondok
menunggu
giliranku

sambil menyesap nikmatnya
melihatmu menggeliat manja
dalam tangannya

Monday, June 16, 2008

Damn Spam


Break the spell of bad luck in love.

Bling-bling does not have to kaching-kaching.
Relax. Take a Deep Breath we have the answers you seek.
You silly moo! Get all your drug needs online.
Have you got a couple of off-hours a day?
Information - X837F064H22. Get all your pain eased
with cheap meds. Phentermime, Ambiem, Xamax, Valiun
at $1.75/pill & ViagraCia||is mro 8th.

From the desk of Dr. Couli Kone. NO STUDY needed!
Buy Degree/Bacheelor/MasteerMBA certificate ixbbaf 8t.
Your Email have Won!!!! Make your weapon esteemed.
Satisfy all her desires. I wonder why you're still shy.
Be the pleasure machine of legend.
Symbols of high class and status. Watch Out.
WHY buy original? we sell at 8-10% of
ORIGINAL PRICE: BvlgariRolexRado, Dior, IWC, Longines
& LV + Gucci Bags adv 5h.

Receipt number for your purchase with us.
Your pants' key from her bedroom!
Don't be a killjoy when the lights go down.
Dude, you should try it!

Damn Spam.

Kisah Magis Perempuan Kerbau


Burung Salju, sang tabib Caddo, memiliki
seorang anak lelaki rupawan. Ketika anaknya siap
mempunyai nama, Burung Salju memanggilnya
Pemberani karena keberaniannya sebagai seorang
pemburu. Banyak gadis di desa Caddo ingin mendapatkan
Pemberani untuk menjadi suami, tapi ia
jarang sekali mempedulikan mereka.

Suatu pagi ketika ia sedang mulai berburu, ia melihat seseorang
duduk di bawah pohon elm kecil. Sambil mendekat, ia terkejut bahwa
orang itu adalah seorang perempuan muda, dan ia langsung berbelok.

"Kemarilah," perempuan itu memanggilnya dengan suara merdu.
Pemberani mendekat dan melihat bahwa perempuan itu sangat muda
dan sangat cantik.

"Aku tahu engkau datang kemari," kata perempuan itu,
"dan aku datang untuk menemuimu."

"Engkau bukan dari suku kami," jawab Pemberani.
"Bagaimana engkau tahu aku menuju kemari?"

"Aku Perempuan Kerbau," katanya. "Aku telah melihatmu
beberapa kali sebelumnya, dari jauh.
Aku ingin engkau membawaku pulang
dan mengijinkanku tinggal bersamamu."

"Aku bisa membawamu pulang bersamaku," jawab Pemberani,
"tapi kamu harus bertanya pada orang tuaku apakah kamu
boleh tinggal bersama kami."

Mereka segera menuju pondok Pemberani, dan ketika tiba di sana
Perempuan Kerbau bertanya kepada orang tuanya apakah ia bisa
tinggal bersama mereka dan menjadi istri sang pemuda.
"Jika Pemberani menginginkanmu sebagai istrinya,
kami akan senang," jawab Burung Salju, sang tabib.
"Sudah waktunya ia mempunyai seseorang yang ia cintai."

Maka Pemberani dan Perempuan Kerbau menikah
dengan adat Caddo dan hidup bahagia bersama selama
beberapa bulan. Suatu hari Perempuan Kerbau bertanya,
"Akankah kau melakukan apapun
yang kuminta padamu, Pemberani?"

"Ya," jawabnya, "jika yang engkau minta bukan sesuatu yang tak mungkin."

"Aku ingin engkau pergi bersamaku mengunjungi orang-orangku."

Pemberani bersedia, dan keesokan harinya mereka berangkat menuju
tempat asal sang Perempuan. Setelah mereka berjalan cukup jauh dan tiba
di perbukitan tinggi, Perempuan itu melihat sekeliling, menatap suaminya dan
berkata "Engkau berjanji akan melakukan apapun yang kuminta."

"Ya,"jawab Pemberani.

"Baiklah," katanya, "tempat tinggalku berada dibalik bukit tinggi ini.
Aku akan memberitahumu setelah kita bertemu ibuku. Aku tahu
akan ada banyak yang datang untuk melihat siapakah kamu,
dan beberapa akan ada yang menantangmu dan membuatmu marah,
tapi jangan sampai engkau marah pada siapapun dari mereka.
Beberapa mungkin akan mencoba membunuhmu."

"Kenapa mereka begitu?" tanya Pemberani.

"Dengarkan apa yang akan kuceritakan padamu," katanya.
"Aku tahu engkau sebelum engkau tahu aku. Dengan magis
aku membuatmu datang kepadaku waktu itu. Kukatakan
bahwa beberapa akan mencoba membuatmu marah,
dan jika engkau menunjukkan kemarahan
pada siapapun dari mereka, yang lain akan bergabung untuk
berkelahi sampai mereka membunuhmu.
Mereka akan cemburu padamu. Alasannya adalah karena
aku menolak banyak dari mereka yang menginginkan aku.

"Tapi engkau adalah istriku sekarang," kata Pemberani.

"Aku telah memberitahumu apa yang harus dilakukan ketika tiba
di sana," lanjut Perempuan Kerbau. "Sekarang berbaringlah di tanah
dan bergulinglah dua kali."

Pemberani tersenyum pada istrinya, tapi ia melakukan apa
yang dimintanya. Ia berguling dua kali, dan ketika ia berdiri,
ia telah berubah menjadi seekor Kerbau.

Selama beberapa saat Perempuan Kerbau menatapnya,
melihat mata suaminya yang terpana. Lalu ia berguling dua kali,
dan ia juga menjadi seekor Kerbau. Tanpa berkata,
ia membimbing suaminya menuju ke puncak bukit.
Di lembah menuju ke barat, Pemberani
melihat beratus-ratus Kerbau.

"Mereka orang-orangku," kata Perempuan Kerbau.
"Ini tempat tinggalku."

Ketika anggota kawanan yang terdekat melihat Pemberani
dan Perempuan Kerbau mendekat, mereka berkumpul di satu
tempat, seolah menunggu kedatangan mereka berdua.
Perempuan Kerbau memimpin jalan, Pemberani mengikutinya sampai
mereka tiba pada seekor Kerbau tua, dan Pemberani tahu bahwa dia adalah
ibu dari istrinya yang cantik.

Selama dua bulan mereka tinggal bersama kawanan tersebut.
Setiap saat, empat atau lima Kerbau muda datang mengganggu Pemberani,
mencoba membangkitkan kemarahannya, tapi ia berpura-pura tidak
melihat mereka. Suatu malam, Perempuan Kerbau berkata bahwa ia siap
kembali ke pondok Pemberani, dan pergilah mereka melewati perbukitan.

Ketika tiba di tempat mereka berubah menjadi Kerbau, mereka berguling
dua kali dan menjadi lelaki dan perempuan lagi. "Berjanjilah bahwa engkau
tak akan memberitahu siapapun tentang perubahan magis ini,"
kata Perempuan Kerbau. "Jika mereka tahu tentang ini, sesuatu yang buruk
akan terjadi pada kita."

Mereka tinggal di pondok Pemberani selama dua belas bulan, dan lagi,
Perempuan Kerbau memintanya untuk mengunjungi orang-orangnya.
Belum lama mereka berada di lembah itu ketika ia memberitahu suaminya
bahwa pemuda-pemuda yang cemburu padanya sedang merencanakan
lomba lari. "Mereka akan menantangmu untuk berlomba dan jika engkau
tak bisa mengalahkan mereka, engkau akan dibunuh," katanya.

Malam itu Pemberani tak dapat tidur. Ia keluar untuk berjalan-jalan.
Malam itu sangat gelap tanpa bulan dan bintang, tapi ia bisa merasakan
kehadiran roh Angin.

"Engkau muda dan kuat" roh Angin berbisi padanya,
"tapi engkau takkan dapat mengalahkan para Kerbau tanpa bantuanku.
Jika engkau kalah, mereka akan membunuhmu. Jika engkau menang,
mereka takkan menantangmu lagi."

"Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan hidupku dan
mempertahankan istriku yang cantik?" tanya Pemberani.

Sang roh Angin memberinya dua benda. "Salah satu dari ini adalah
ramuan magis," kata roh Angin. "Satunya adalah lumpur kering
dari kubangan obat. Jika para Kerbau mendekatimu, pertama lemparkan
ramuan magis itu di belakangmu. Jika mereka terlalu dekat lagi,
lemparkan lumpur keringnya."

Keesokan harinya adalah waktu lomba. Saat matahari terbit
para Kerbau muda berkumpul di tempat dimulainya lomba.
Ketika Pemberani bergabung bersama mereka, mereka mulai
mengejeknya, mengatakan bahwa ia adalah kerbau manusia dan
tak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka. Pemberani
mengabaikan cemooh mereka, dan dengan tenang bersiap di
titik mulai.

Seekor Kerbau tua memulai perlombaan dengan lenguhan keras,
dan mula-mula Pemberani memimpin, berlari sangat cepat.
Namun segera yang lain menyusulnya, dan ketika ia mendengar
dengus keras mereka di belakangnya, ia melemparkan ramuan magis
ke belakangnya. Saat itu ia merasa sangat lelah dan
berpikir bahwa ia takkan lagi bisa berlari. Ia melihat ke belakang dan melihat
seekor Kerbau dengan kepala tertunduk datan dengan sangat cepat dan
jaraknya dengan Pemberani menjadi sangat dekat.

Ketika Kerbau itu hampir berpapasan dengannya, Pemberani
melemparkan lumpur kering dari kubangan obat.

Segera ia memimpin di depan, namun ia tahu bahwa ia telah menggunakan
kekuatan yang diberikan padanya oleh roh Angin. Ketika ia mendekati
titik akhir perlombaan, ia mendengar derap kaki yang mendekat ke arahnya.
Pada detik terakhir, ia merasakan angin yang kuat di wajahnya yang lewat
dan menimbulkan debu sehingga Kerbau dibelakangnya tak bisa melewatinya.

Dengan bantuan roh Angin, Pemberani melewati titik akhir dan memenangkan
lomba itu. Sejak itu, tak seekor Kerbaupun pernah menantangnya lagi,
dan ia serta Perempuan Kerbau hidup damai bersama kawanan tersebut hingga
mereka siap kembali ke orang-orang Caddo.

Tak lama setelah mereka kembali ke pondok Pemberani,
Perempuan Kerbau melahirkan seorang anak lelaki tampan.
Mereka menamainya Pemuda Kerbau, dan segera ia tumbuh
dan bermain bersama teman-teman di desanya.

Suatu hari ketika Perempuan Kerbau sedang memasak makan malam,
anak lelakinya menyelinap keluar dan bermain bersama teman-temannya.
Mereka memainkan bermacam-macam permainan dan akhirnya memutuskan
bermain sebagai Kerbau. Beberapa di antara mereka berbaring di tanah dan
berguling seperti Kerbau, dan Pemuda Kerbau juga melakukannya.

Ketika ia berguling dua kali, ia berubah menjadi seekor anak Kerbau.
Melihat ini semua anak ketakutan dan berlari pulang ke pondok masing-masing.

Tepat pada saat itu ibunya keluar mencarinya dan ketika ia melihat
anak-anak kecil lari ketakutan, ia tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi.
Ia segera melihat apa yang terjadi dan menemukan anak lelakinya berubah
menjadi seekor anak Kerbau. Ia segera merengkuhnya, berlari menuruni bukit,
dan setelah jauh dari desa ia mengubah dirinya menjadi seekor Kerbau dan bersama
Pemuda Kerbau, mereka pergi menuju ke barat.

Petang harinya, ketika Pemberani pulang berburu ia tak dapat menemukan
istri dan anaknya di pondok. Ia pergi mencari mereka, dan ada yang memberi
tahunya tentang permainan anak-anak serta keajaiban yang mengubah anaknya
menjadi seekor anak Kerbau.

Mula-mula Pemberani tak percaya apa yang mereka katakan,
tapi setelah ia mengikuti jejak istrinya ke bawah bukit dan menemukan
tempat di mana ia berguling, ia tahu cerita itu benar.

Selama berbulan-bulan Pemberani mencari Perempuan Kerbau
dan Pemuda Kerbau, tetapi ia tak pernah menemukan mereka.

...


Kualihbahasakan dari: Buffalo Woman, A Story of Magic (http://www.indians.org/welker/buffalow.htm)

Friday, June 13, 2008

Kembali


selimut dekapmu

merengkuh sepiku
membasuh nyeri
sampai sedih itu pergi

kemari
lebih dekat lagi

janji ini abadi
tak pernah akan
teringkari

tak mau kehilangan
dan jangan tinggalkan
aku sendiri

Thursday, June 12, 2008

ysd


.

.

tak pe

r

lu ber

bes

ar ras

a

sud

ah di

ping

gir ju r

ang

t

ing

gal mel

angk

ah p

ulang at

au jat

uh

me

l

aya

ng

Tuesday, June 10, 2008

Sir James M. Barrie :


"When the first

baby

laughed

for the first

time,


The laugh

broke

into a thousand

pieces,


and they all

went

skipping about,


and that was

the beginning

of fairies"


***


Bukan Tentang Purnama


karena ini gambaran fajar ketika pagi datang

dengan pisau kecil cahaya merobek layar malam
membukanya tanpa suara sehingga hitam biru ungu
kelabu kelam itu berangsur-angsur memutih bercampur
merah oranye kuning semakin luas semakin lebar
semakin terang seperti kunang-kunang besar melingkupi
pandangan dengan sayap-sayapnya yang cemerlang

ada tangan gemetar membuka lipatan kenangan
perlahan sangat pelan sepelan datangnya keriput di
sekujur kisah hidup yang mulai kusut terbelit usia
ketika ingatan kikir membagi cerita milik sendiri
yang tersimpan sampai nyaris membusuk di palung hati

maka sebelum malam dengan pasukan kegelapan
datang menerkam segala tanpa menunggu nyala lampu
banyaklah mereka berlomba melarung doa pada samudra senja
yang membuat dada selalu merasa remaja dengan ketenangan
yang terbenam diam di cakrawala jiwa

Y, June 08

Thursday, June 5, 2008

Nyanyian Doa Ular Bisa*


: Wisnu DJ


Suatu hari beberapa anak Cherokee bermain di luar
ketika seekor ular bisa merayap keluar dari rumput.
Mereka menjerit dan ibu mereka lari keluar.
Tanpa berpikir ia mengambil kayu
dan membunuhnya.

Suaminya sedang berburu di gunung. Ketika ia pulang
ke rumah malam itu, ia mendengar suara ratapan aneh.
Ia melihat sekeliling dan menemukan dirinya berada di
antara sekelompok ular bisa yang mulutnya
terbuka dan menangis.

"Apa yang terjadi" tanya lelaki itu kepada para ular.
Mereka menjawab, "Istrimu membunuh pimpinan kami
Sang Ular Kuning hari ini. Kami sedang bersiap mengirimkan
Sang Ular Hitam untuk membalas dendam."

Sang suami segera menerima tuntutan mereka
dan bertanggung jawab atas kejahatan itu. Para ular berkata,
"Jika engkau benar, engkau harus siap melunasinya." Yang mereka
minta adalah nyawa istrinya sebagai pengorbanan untuk pimpinan
mereka. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu setuju.

Para ular memberi tahu si lelaki bahwa Sang Ular Hitam
akan mengikutinya pulang ke rumah dan bergelung
di depan pintunya. Ia diminta untuk meminta istrinya agar
membawakannya minuman segar dari mata air. Hanya itu.

Ketika lelaki itu tiba di rumah, hari sudah sangat gelap.
Istrinya telah menyiapkan makan malam untuknya.

"Tolong bawakan aku air minum," ia meminta pada istrinya.
Istrinya membawakan air labu manis, tapi lelaki itu
menolaknya.

"Tidak" katanya. "Aku ingin air segar dari mata air."

Istrinya mengambil mangkuk dan pergi keluar untuk mengambilkan
air segar. Lelaki itu tiba-tiba mendengarnya menangis. Ia segera
keluar dan melihat bahwa Sang Ular Hitam telah menggigitnya
dan istrinya sudah sekarat. Ia menjaga istrinya sampai ia meninggal.

Sang Ular Hitam lalu merayap keluar dari rumput.
"Suku kami telah puas sekarang," katanya pada si lelaki. Ia lalu
mengajari lelaki itu sebuah nyanyian doa. Sang Ular Hitam
berkata kepadanya, "Sejak saat ini, jika engkau bertemu
siapapun dari kami, nyanyikanlah lagu ini dan kami
tak akan menyakitimu. Jika salah satu dari kami tak sengaja menggigit,
nyanyikan lagu ini pada yang tergigit dan ia akan segera pulih."

Dan lelaki Cherokee itu terus menjaga lagu itu sampai sekarang.



*kuterjemahkan dari Michael J. Rutledge http://cherokeehistory.com/law.html

Wednesday, June 4, 2008

Lembayung Batavia


kita tak terbata pada laju kereta

malah tertawa ketika artis sinetron itu
berkampanye bahwa rahasia suksesnya
karena banyak membaca

gambir mencibir
waktu kami melongo
di depan hoka-hoka bento

penginapan empat musim
memberi mimpi aneh tentang
lengan-lengan bangunan bergandengan
menggoyang malam

di bundaran
tukang-tukang menggoda penjual makanan
donat seharga syahwat

kau sebut apa hidup yang lebih samar dari nyata
ketika kau berada tapi tak benar-benar di sana
semua yang teraba tak terasa

mungkin karena tingginya harga
mencakar langit
sedang kita hanya daun jatuh menimpa
kaca-kaca segala berlabel kaya
memantulkan kelap-kelip cahaya kota

di dalam bathtub penat menguap
ketika matamu pejam nyaman berendam

igau memecah sunyi

"honey
jangan pernah tinggalkanku sendiri"

Tuesday, June 3, 2008

Lipur Lara


: ukbitah


kesedihan itu seperti kabut menyeruak dari dalam dada
membungkus kita dalam kesamaran yang dingin, sunyi
dan sendiri

kudekap kau biar hangat
sampai kabut itu berlalu

air matamu jauh di dasar goa dada
tapi tetesnya di ruang berongga
menggema

seperti nyanyi yang mencabik jiwa
aku yang mendengarnya

kehilangan adalah harga mahal yang harus kau bayarkan
meski sayapmu seperti rapuh berguguran
aku akan merawatnya

sampai tumbuh lagi biar kepakmu kokoh
terbang tangguh tanpa roboh

Monday, June 2, 2008

Re: WEY - HAH*



"knalb!" kukejutkan dia.

"mmm", sahutnya datar.

Aku seperti lembar kertas penuh huruf tumpang-
tindih berjejal di antara geletak potongan kata dan
cemburu menatapnya hampa

begitu sederhana, begitu biasa-biasa saja.



*membalas cerita puendek Wawan Eko Yulianto : Bertemu Teman
& balasan Hasan Aspahani di milis Apresiasi Sastra*

Atik


tidak melinang derai mancur seperti kucur

wangi semu di sana-sini.

tidak membuncah pongah seperti kecambah di
jazirah amat gerah

tidak sambar sayat kelebat melingkar memotong pagar sendiri
lalu limbung gapai-gapai cari seimbang pada sulur jurang

tidak bertabur permata nirwana dari
tangan noda

tidak menyandera sang maha untuk diseret menjadi
keset kotoran kaki yang belum lerai masih terbengkalai

tidak sendawa tawa bohong lidah kosong

tidak melolong

tidak melompong

tidak sama


: kita